Jumat, 03 Desember 2010

Uni Parlemen Asia (APA) Kecam Nuklir Zionis

Damaskus - Israel merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir berdaya rusak tinggi, namun tidak pernah mendapatkan sanksi PBB, berbeda dengan Iran.

Para peserta pertemuan kelima Uni Parlemen Asia (APA) di Damaskus, Suriah menegaskan pentingnya melakukan penyelidikan instalasi nuklir rezim Zionis Israel oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dalam pernyataan bersama di Damaskus, APA mendesak IAEA untuk terjun mengawasi instalasi nuklir Israel.

Pentingnya penyelidikan terhadap program nuklir militer rezim Zionis tersebut sangat mendesak dilakukan, karena hingga kini memicu kekhawatiran masyarakat dunia. Berbagai pertemuan regional dan internasional menilai program nuklir militer rezim Zionis sebagai ancaman serius bagi keamanan kawasan dan dunia.

Israel terus memacu produksi senjata pemusnah massal berdaya rusak tinggi. Untuk memperkokoh eksistensi ilegalnya, Israel dengan berbagai cara memproduksi senjata nuklir dan kimia. Tujuan ilegal Israel ini terwujud dengan bantuan membabi-buta negara-negara Barat. Dengan bantuan teknologi produksi senjata nuklir sejumlah negara Barat, rezim Zionis berhasil mempersenjatai dirinya dengan senjata pemusnaha massal berteknologi tinggi.

Kini, program nuklir militer Israel menghasilkan sejumlah hulu ledak nuklir di wilayah pendudukan Palestina. Berbagai sumber menyebutkan bahwa rezim Zionis telah memiliki lebih dari 200 hulu ledak nuklir.

Aksi sejumlah negara Barat membantu upaya Israel memproduksi senjata pemusnah massal tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Traktat Non-proliferasi Nuklir (NPT). Hingga kini, rezim Zionis yang berlindung di balik dukungan negara-negara Barat senantiasa menolak bergabung dalam Traktat Non-proliferasi Nuklir, dan tetap melanjutkan aktivitas nuklir militernya.

Israel hingga kini tidak pernah mengizinkan inspektor IAEA menyelidiki instalasi nuklirnya. IAEA pun bersama negara-negara Barat bersikap bungkam menyikapi masalah ini. Ironisnya, IAEA yang berada dalam tekanan negara-negara Barat justru menjegal berbagai negara dunia yang berusaha mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai, terutama untuk kepentingan produksi energi.

Kinerja pasif IAEA menghadapi rezim Zionis dan aksi lembaga nuklir internasional ini bersama negara-negara Barat menginjak-injak hak negara lain terkait teknologi nuklir sipil justru memicu kritik masyarakat dunia.
(*/dar)



Sumber : wartanews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

Followers