Jakarta - Pemerintah Indonesia tetap tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel jika negara itu masih juga tidak mematuhi resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Sejak awal dari jaman merdeka, konferensi Asia-Afrika, kita tidak akan membuka hubungan diplomatik sebelum Israel melakukan resolusi tersebut. Itu posisi prinsip," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I di DPR, di Jakarta, Senin (29/11).
Marty menegaskan, tidak ada pergeseran sikap dari pemerintah Indonesia. Posisi ini juga tidak membatasi kemampuan negara kita dalam memberikan peran dalam upaya ikut memberikan dorongan demi tercapainya kemerdekaan Palestina.
Menurut Marty, posisi ini malah memberikan nilai tawar Indonesia lebih besar. Israel selama ini sebenarnya sangat menanti sikap Indonesia berubah karena dianggap memiliki peran besar dalam mempengaruhi negara-negara lain, khususnya karena tergabung dalam gerakan nonblok. "Kita bisa menjadi lokomotif gerakan nonblok. Keadaan itu kita manfaatkan,"ujarnya.
Negara yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel, seperti Mesir dan Jordan, kata Marty, juga tidak juga bisa mempengaruhi Israel. "Implikasi itu sendiri ternyata tidak serta merta bisa mempengaruhi sikap Israel,"ujarnya.
Yang dilakukan Pemerinta Indonesia saat ini, tambah Marty, fokus membantu Palestina. "Bukan hanya di Indonesia saja, tapi kita juga menggalang bantuan semua negara Asia dan Afrika untuk membantu Palestina. Kita sudah bicarakan dengan Afrika Selatan, India dan Brasil, negara-negara yang semakin besar pengaruhnya untuk identifikasi, mengupayakan kemerdekaan Palestina," kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, Marty juga menegaskan soal hubungan dengan Taiwan di mana sejak awal Indonesia menganut Kebijakan Satu China (One China Policy). Meskipun begitu, kerjasama Indonesia-Taiwan tetap berjalan relatif baik, terutama di bidang perdagangan dan ekonomi.
"Hubungan Taiwan dengan China Tiongkok akhir-akhir ini semakin baik, ada perjanjian kerjasama ekonomi Juni 2010 lalu. Semakin baiknya hubungan keduanya membuat ruang kita semakin luas. Semua bisa diselaraskan," ujarnya.
Sumber : tempointeraktif
Selasa, 30 November 2010
Minggu, 28 November 2010
Kisah Jonathan Pollak, Remaja Yahudi Penentang Pendudukan Israel
| Jonathan Pollak |
Berita tentang Jonathan Pollak bakal terdengar aneh di kuping warga Palestina, apalagi warga Israel yang bermukim di Jalur Gaza. Pollak kini menghadapi vonis hakim Pengadilan Tel Aviv. Ia kemungkinan bakal mendekam antara tiga sampai enam bulan di penjara.
Kejahatannya? Pollak berunjuk rasa, mengendarai sepeda di jalan-jalan kota Tel Aviv bersama sekitar 30 rekan-rekannya pada Januari 2008. Mereka memprotes serangan Israel ke Kota Gaza.
Tidak ada yang salah dengan demonstrasi Pollak. Berunjuk rasa mengendarai sepeda di Tel Aviv bisa dibilang hal lumrah. Penggiat lingkungan hidup pun kerap melakukannya.
Tapi ketika Pollak dan rekan-rekan mereka memprotes Israel yang menyerang Gaza, hanya Pollak yang ditangkap polisi.
Dan Pollak adalah seorang Yahudi tulen. Namun Pollak bukan Yahudi yang 'lazim'. Sebab dari catatan kegiatannya, ia sudah berunjuk rasa menentang kependudukan Israel di Jalur Gaza sejak lama. Pollak bahkan dikenal sebagai pengunjuk rasa veteran.
Ia kerap berada di di barisan depan pengunjuk rasa Gaza, bersama pemuda-pemuda Palestina, pekan demi pekan. Melempar batu ke tank-tank dan prajurit Israel. Mengambil risiko yang sama ditembaki dengan peluru tajam.
Ayed Morrar, aktivis Palestina yang terkenal dengan video dokumenternya saat menghalangi konvoi tentara Israel di Desa Budrus, sampai memuji Pollak. "Dia (Pollak) adalah pemuda yang saya kagumi. Saya bersahabat dengannya," kata Morrar.
Pollak lahir dari keluarga Yahudi beraliran kiri. Ayahnya,Yossi, adalah salah satu aktor terkenal Israel. Sementara ibunya, Nimrod Eshel, pernah dipenjara gara-gara mengoordinasi unjukrasa nelayan Israel tahun 1950-an.
Pollak sudah mengenal demonstrasi sejak bayi. Ayah dan ibunya membawa bayi Pollak saat unjuk rasa besar-besaran di Tel Aviv tahun 1982, sejumlah warga Israel meminta Perang Lebanon diakhiri.
"Yang membuat saya berbeda dengan pemuda Yahudi lainnya, bahkan dengan yang pro Palestina pun adalah saya sudah 'menyeberang'. Kami bukan lagi memprotes pendudukan Israel. Kami melawan Israel," kata Pollak, dengan tegas.
Belajar Bahasa Arab
Pollak putus sekolah sejak ia berusia 15 tahun. Di usia remaja ia sudah menjadi aktivis penyayang binatang. Pollak muda menyebut dirinya sebagai seorang penganut anarkisme.
Pollak juga kabur dari program wajib militer. Ia bersembunyi di Belanda selama dua tahun, sebelum akhirnya dideportasi ke Israel. Catatan kriminalnya penuh dengan tinta merah: melawan polisi, melawan militer.
Untuk menopang hidupnya sehari-hari, Pollak harus banting tulang, karena ia lebih sering tinggal di permukiman Palestina ketimbang Yahudi. Ia belajar bahasa Arab dan desain grafis untuk membuat selebaran-selabaran iklan.
"Pollak ingin membuktikan, siapapun yang mendukung gerakan pendudukan Israel atas Palestina tidak boleh menyebut dirinya beradab!" kata Morrar. "Pollak juga menegaskan, berjuang menentang pendudukan dan kekejaman Israel bukan berarti menjadi seorang teroris atau pembunuh," sambung Morrar.
Kuasa hukum Pollak, Gaby Lasky, mengatakan peradilan Israel berlaku diskriminatif terhadap Pollak. "Tapi kalau Pollak masuk penjara, ia akan masuk dengan kepala tegak karena membela Palestina," katanya. "Hukum Israel-lah yang harusnya malu. Malu telah berbuat semena-mena pada warga Palestina di Gaza yang selama ini menderita," katanya.
Label:
Anti Zionis,
Yahudi
Blokade Israel Tewaskan Puluhan Warga Palestina
Gaza City - Kekejaman Israel dengan melakukan blokade terhadap warga Palestina di Jalur Gaza, sama saja dengan membunuh mereka secara perlahan karena ketiadaan pasokan barang kebutuhan hidup dan obat-obatan.
"Blokade Israel yang telah berlangsung selama empat tahun di Jalur Gaza telah mengakibatkan kematian puluhan warga Palestina karena masalah kesehatan akibat terhentinya pasokan obat-obatan untuk rumah sakit Gaza," ungkap kelompok hak asasi manusia Palestina.
"Masalah ini diperparah oleh ketidakmampuan para warga Palestina untuk bepergian ke luar negeri untuk melakukan perawatan medis," tambah mereka.
Blokade ilegal yang diterapkan Israel terhadap Jalur Gaza sejak 2006 lalu telah menurunkan kualitas hidup penduduk Jalur Gaza. "Blokade saat ini juga telah memberlakukan pembatasan terhadap arus impor dan ekspor barang ke dan dari Gaza, sehingga mencegah warga Gaza untuk bisa menikmati kondisi hidup yang lebih baik karena meningkatnya pengangguran dan kemiskinan," tambah mereka.
"Karena pengepungan, warga Gaza juga menderita ancaman terhadap akses mereka terhadap kebutuhan dasar, seperti air minum dan listrik."
"Selain itu, warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat sering mendapatkan perlakuan tak berperikemanusiaan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) serta sering merusak harta benda mereka. Perempuan menderita karena penahanan sewenang-wenang tentara Israel terhadap suami dan anak-anak mereka," tambah mereka.
Sering dengan tanpa alasan, pasukan Israel menerobos masuk ke dalam rumah serta melakukan penggeledahan. Selain diserang, dibom dan ditembak, warga Palestina juga menderita karena tanah mereka disita, rumah mereka dihancurkan sehingga para warga Palestina banyak yang tunawisma.
Sebanyak 35 perempuan Palestina kini ditahan di penjara-penjara IDF dalam kondisi yang menyedihkan, dengan perlakukan yang tidak berperikemanusiaan dan merendahkan martabat manusia.(*/dar)
"Blokade Israel yang telah berlangsung selama empat tahun di Jalur Gaza telah mengakibatkan kematian puluhan warga Palestina karena masalah kesehatan akibat terhentinya pasokan obat-obatan untuk rumah sakit Gaza," ungkap kelompok hak asasi manusia Palestina.
"Masalah ini diperparah oleh ketidakmampuan para warga Palestina untuk bepergian ke luar negeri untuk melakukan perawatan medis," tambah mereka.
Blokade ilegal yang diterapkan Israel terhadap Jalur Gaza sejak 2006 lalu telah menurunkan kualitas hidup penduduk Jalur Gaza. "Blokade saat ini juga telah memberlakukan pembatasan terhadap arus impor dan ekspor barang ke dan dari Gaza, sehingga mencegah warga Gaza untuk bisa menikmati kondisi hidup yang lebih baik karena meningkatnya pengangguran dan kemiskinan," tambah mereka.
"Karena pengepungan, warga Gaza juga menderita ancaman terhadap akses mereka terhadap kebutuhan dasar, seperti air minum dan listrik."
"Selain itu, warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat sering mendapatkan perlakuan tak berperikemanusiaan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) serta sering merusak harta benda mereka. Perempuan menderita karena penahanan sewenang-wenang tentara Israel terhadap suami dan anak-anak mereka," tambah mereka.
Sering dengan tanpa alasan, pasukan Israel menerobos masuk ke dalam rumah serta melakukan penggeledahan. Selain diserang, dibom dan ditembak, warga Palestina juga menderita karena tanah mereka disita, rumah mereka dihancurkan sehingga para warga Palestina banyak yang tunawisma.
Sebanyak 35 perempuan Palestina kini ditahan di penjara-penjara IDF dalam kondisi yang menyedihkan, dengan perlakukan yang tidak berperikemanusiaan dan merendahkan martabat manusia.(*/dar)
Sumber : wartanews
Sabtu, 27 November 2010
Mengintip Skenario Israel di Pasar Asia
Salah satu area bisnis di Tel Aviv
JERUSSALEM - Diam-diam menghanyutkan. Begitulah perkembangan ekonomi Israel. Ketika dunia terfokus pada bangkitnya Cina dan India sebagai kekuatan ekonomi yang baru, Israel telah menjadi surga bagi inovasi global. Bisa jadi, India dan China harus menyontek kekuatan negara Yahudi tersebut dalam hal inovasi.
Meski negara ini hanya berpenduduk 7.6 juta namun sangat berperan dalam inovasi di bidang pesan instan, pesan suara dan teknologi internet. Bahkan negara tersebut telah mengembangkan pengunaan nanoteknologi dibidang kedokteran.
Kondisi itu tentu terendus perusahan berbasis teknologi seperti Microsoft dan Intel. Masuknya perusahaan-perusahan besar tentu berdampak pada pertumbuhan ekonomi Israel. Data terakhir menyebutkan Israel mencatatkan diri sebagai negara dengan pendapatan per kapita di dunia yakni 30 ribu dolar AS. Israel bahkan melampaui catatan pendapatan per kapita negara-negara Arab, dan hanya kalah dari Jepang yang berada di kisaran 32. ribu dolar AS.
Namun, bisa jadi skenario yang dimaksud bergeser pada kawasan Asia. Pasalnya, benua terluas di dunia ini memiliki pasar manufaktur yang bagus. Disamping itu, Asia menawarkan tenaga kerja yang murah. Jadi, perangkat teknologi mumpuni dengan tenaga kerja murah menjadi simbiosis yang dashyat bila digabungkan.
Pengusaha Israel tentu realistis dengan kondisi dalam negeri yang tidak memungkinkan adanya investasi optimal. Lain cerita bila mereka merujuk pada Cina dan India dengan jumlah penduduk lebih besar. Perusahaan teknologi Cina mempekerjakan 9,6 juta orang di 2009 atau 2 juta lebih banyak dari seluruh penduduk Israel. Sementara India, memiliki 350 ribu insinyur pada tahun 2009 atau lebih dari tiga kali jumlah semua insinyur terdaftar di Israel. "Pada titik tertentu, kuantitas menjadi kualitas," kata Zeev Holtzman, ketua Giza Venture Capital di Tel Aviv seperti dikutip arabnews, Kamis (25/11),
Direktur Managing Partner Yerussalem Venture, Erel Margalit mengatakan Israel perlu reinvestasi diri. "Apa yang Anda lakukan 5 atau 10 tahun yang lalu tidak akan baru lagi," ujarnya. Salah satu gagasan yang kemudian muncul adalah menargetkan konsumen. Artinya, Israel pantas melirik Nokia. "Ketika sebuah negara atau perusahaan yang terfokus pada teknologi sebagai pilihan inovasi, ada batas jangkauan perusahaan untuk mencapainya kecuali jika ia fokus menjadi inovator konsumen ," kata Adam Fisher, mitra Israel dari Bessemer Venture Partners Amerika Serikat
Untuk saat ini, India dan Cina telah fokus pada perubahan pemanfaatan teknologi untuk menguasai pasar domestik melalui produk-produknya. "India dan China memiliki pasar domestik untuk memasok," kata Fisher. Dan ketika Anda memiliki itu, kata Fisher, ada sedikit alasan untuk mengembangkan inovasi mutakhir bagi AS
"Perusahaan ... Kapan mereka berhenti? Saya prediksikan hanya 20 tahun saja. Banyak lulusan teknik di India dianggap oleh majikan tidak siap untuk bekerja. Perusahan perangkat lunak raksasa seperti Infosys memulai program pelatihan intensif untuk karyawan baru," papar Fischer.
Tetapi perusahaan-perusahaan Cina juga mengembangkan teknologi dan ekspansi menuju layanan dan sistem yang merupakan lahan unggulan perusahaan asal Israel. Disamping itu, Cina melalui pasar domestik yang besar memberikan arus kas perusahaan untuk membiayai penelitian dan skala ekonomi. Untuk saat ini, Israel terus menjadi magnet bagi modal ventura yang telah membantu industri teknologi tumbuh. Sejauh ini dana ventura Isarel diperkirakan mencapai 1 miliar dolar AS tahun 2009 lalu.
Sementara itu, Dow Jones Venture Source, melaporkan pemilik modal seluruh dunia menginvestasikan hampir 904 juta dolar AS ke Israel dalam sembilan bulan pertama tahun 2010. perusahaan Cina menarik sedikit lebih dari 2 miliar dolar AS pada periode yang sama. Sementara perusahaan India menarik 710 juta dolar AS. "Modal yang dimiliki Israel harus menghadapi tantangan karena pergeseran perhatian global ke Timur," kata Holtzman.
Sementara itu, banyak perusahaan teknologi Israel menuju India. Giza mempertahankan pasar di Singapura. Ness Technologies, perusahaan layanan komputer memiliki kantor di seluruh India. "Mereka adalah pasar yang besar, Kita harus siap membuat target," kata Michael Eisenberg, salah seorang pengamat ekonomi. "Target yang harus disiapkan adalah memasuki layanan aplikasi dan permainan di internet, layanan konten internet, otomotif dan lainnya," kata dia.
Kondisi itu tentu terendus perusahan berbasis teknologi seperti Microsoft dan Intel. Masuknya perusahaan-perusahan besar tentu berdampak pada pertumbuhan ekonomi Israel. Data terakhir menyebutkan Israel mencatatkan diri sebagai negara dengan pendapatan per kapita di dunia yakni 30 ribu dolar AS. Israel bahkan melampaui catatan pendapatan per kapita negara-negara Arab, dan hanya kalah dari Jepang yang berada di kisaran 32. ribu dolar AS.
Namun, bisa jadi skenario yang dimaksud bergeser pada kawasan Asia. Pasalnya, benua terluas di dunia ini memiliki pasar manufaktur yang bagus. Disamping itu, Asia menawarkan tenaga kerja yang murah. Jadi, perangkat teknologi mumpuni dengan tenaga kerja murah menjadi simbiosis yang dashyat bila digabungkan.
Pengusaha Israel tentu realistis dengan kondisi dalam negeri yang tidak memungkinkan adanya investasi optimal. Lain cerita bila mereka merujuk pada Cina dan India dengan jumlah penduduk lebih besar. Perusahaan teknologi Cina mempekerjakan 9,6 juta orang di 2009 atau 2 juta lebih banyak dari seluruh penduduk Israel. Sementara India, memiliki 350 ribu insinyur pada tahun 2009 atau lebih dari tiga kali jumlah semua insinyur terdaftar di Israel. "Pada titik tertentu, kuantitas menjadi kualitas," kata Zeev Holtzman, ketua Giza Venture Capital di Tel Aviv seperti dikutip arabnews, Kamis (25/11),
Direktur Managing Partner Yerussalem Venture, Erel Margalit mengatakan Israel perlu reinvestasi diri. "Apa yang Anda lakukan 5 atau 10 tahun yang lalu tidak akan baru lagi," ujarnya. Salah satu gagasan yang kemudian muncul adalah menargetkan konsumen. Artinya, Israel pantas melirik Nokia. "Ketika sebuah negara atau perusahaan yang terfokus pada teknologi sebagai pilihan inovasi, ada batas jangkauan perusahaan untuk mencapainya kecuali jika ia fokus menjadi inovator konsumen ," kata Adam Fisher, mitra Israel dari Bessemer Venture Partners Amerika Serikat
Untuk saat ini, India dan Cina telah fokus pada perubahan pemanfaatan teknologi untuk menguasai pasar domestik melalui produk-produknya. "India dan China memiliki pasar domestik untuk memasok," kata Fisher. Dan ketika Anda memiliki itu, kata Fisher, ada sedikit alasan untuk mengembangkan inovasi mutakhir bagi AS
"Perusahaan ... Kapan mereka berhenti? Saya prediksikan hanya 20 tahun saja. Banyak lulusan teknik di India dianggap oleh majikan tidak siap untuk bekerja. Perusahan perangkat lunak raksasa seperti Infosys memulai program pelatihan intensif untuk karyawan baru," papar Fischer.
Tetapi perusahaan-perusahaan Cina juga mengembangkan teknologi dan ekspansi menuju layanan dan sistem yang merupakan lahan unggulan perusahaan asal Israel. Disamping itu, Cina melalui pasar domestik yang besar memberikan arus kas perusahaan untuk membiayai penelitian dan skala ekonomi. Untuk saat ini, Israel terus menjadi magnet bagi modal ventura yang telah membantu industri teknologi tumbuh. Sejauh ini dana ventura Isarel diperkirakan mencapai 1 miliar dolar AS tahun 2009 lalu.
Sementara itu, Dow Jones Venture Source, melaporkan pemilik modal seluruh dunia menginvestasikan hampir 904 juta dolar AS ke Israel dalam sembilan bulan pertama tahun 2010. perusahaan Cina menarik sedikit lebih dari 2 miliar dolar AS pada periode yang sama. Sementara perusahaan India menarik 710 juta dolar AS. "Modal yang dimiliki Israel harus menghadapi tantangan karena pergeseran perhatian global ke Timur," kata Holtzman.
Sementara itu, banyak perusahaan teknologi Israel menuju India. Giza mempertahankan pasar di Singapura. Ness Technologies, perusahaan layanan komputer memiliki kantor di seluruh India. "Mereka adalah pasar yang besar, Kita harus siap membuat target," kata Michael Eisenberg, salah seorang pengamat ekonomi. "Target yang harus disiapkan adalah memasuki layanan aplikasi dan permainan di internet, layanan konten internet, otomotif dan lainnya," kata dia.
sumber : republika
Rezim Zionis Menolak Berpartisipasi dalam Konferensi Tentang Rasisme
Juru bicara Departemen Luar Negeri Israel, Yigal Palmor mengatakan, konferensi itu menyuarakan "nada anti-Semit dan menampilkan kebencian terhadap Israel dan dunia Yahudi."
AS dan Israel melakukan aksi walk out saat diadakannya Konferensi Dunia Menentang Rasisme di kota Durban Afrika Selatan pada 2001 lalu, terkait dikeluarkannya rancangan resolusi yang mengecam Israel dan Zionisme.
Majelis Umum PBB memutuskan akan memperingati ulang tahun ke-10 acara tersebut pada Jumat (31/12) mendatang, pada pertemuan tahunan menteri 21 September lalu.
Sejumlah besar negara-negara Muslim dan Afrika akan menghadiri peringatan itu, serta mengatakan rasisme dan intoleransi keagamaan masih tetap berkembang di dunia saat ini.(*/dar)
sumber : wartanews
Label:
Rasisme
Jumat, 26 November 2010
Ya Ampun, Serdadu Israel Seret Bocah Palestina Hingga Patah Tulang
Bocah Palestina
ALQUDS - Rabu sore (24/11), seorang bocah Palestina Adam nshur Rasyq dari Silwan, al Quds, terluka patah tulang akibat tindakan brutal pasukan penjajah Zionis Israel terhadapnya, hingga mengalami patah tulang di tangan dan kaki serta luka lainnya. Saat memberikan keterangan di rumah sakit kepada para wartawan al Quds, ayah korban menegaskan bahwa pasukan penjajah Zionis Israel mengejar ananya yang berusia 7 tahun.
Setelah tertangkap anaknya dipukuli dan diseret secara brutal hingga mengalami patah tulang di tangan dan kaki. Tidak hanya itu, anaknya yang masih kecil itu kemudian dilempar di pinggir jalan dan ditinggalkan begitu saja.
Sementara itu ketua komite pembela tanah Silwan, Fakhri Abu Diyab, mengatakan bahwa korban mengalami sejumlah patah tulang. Para dokter di rumah sakit sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap korban karena dia terus berteriak kesakitan. Ini menegaskan adanya luka lain di tubuh korban selain patah tulang di tangan dan kaki.
Abu Diyab mengecam tindakan brutal pasukan penjajah Zionis Israel yang berusaha memaksakan karismanya terhadap anak-anak yang masih berusia 7 tahun. Dia menemabahkan, “Saya tidak membayangkan, akal macam apa yang digunakan berpikir oleh brigade militer Israel yang bersenjata lengkap dan sangat kuat saat memburu anak-anak kecil kemudian menyeret dan memukulinya dan selanjutnya melemparnya di pinggir jalan.”
Setelah tertangkap anaknya dipukuli dan diseret secara brutal hingga mengalami patah tulang di tangan dan kaki. Tidak hanya itu, anaknya yang masih kecil itu kemudian dilempar di pinggir jalan dan ditinggalkan begitu saja.
Sementara itu ketua komite pembela tanah Silwan, Fakhri Abu Diyab, mengatakan bahwa korban mengalami sejumlah patah tulang. Para dokter di rumah sakit sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap korban karena dia terus berteriak kesakitan. Ini menegaskan adanya luka lain di tubuh korban selain patah tulang di tangan dan kaki.
Abu Diyab mengecam tindakan brutal pasukan penjajah Zionis Israel yang berusaha memaksakan karismanya terhadap anak-anak yang masih berusia 7 tahun. Dia menemabahkan, “Saya tidak membayangkan, akal macam apa yang digunakan berpikir oleh brigade militer Israel yang bersenjata lengkap dan sangat kuat saat memburu anak-anak kecil kemudian menyeret dan memukulinya dan selanjutnya melemparnya di pinggir jalan.”
sumber : republika
Selasa, 16 November 2010
Politik Netanyahu Justru Satukan Bangsa Palestina?
Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, berada di Amerika Serikat minggu ini, namun beberapa pengamat mengharapkan suatu terobosan langsung atau signifikan dalam pembicaraan damai dengan kepemimpinan Palestina.
Di depan umum, Netanyahu memelihara komitmennya untuk janji yang dibuatnya tahun lalu, tak lama setelah ia membentuk pemerintah sayap kanannnya, untuk bekerja menuju pembentukan negara Palestina yang didemiliterisasi.
Namun sejauh ini dia telah membuktikan bahwa ia tidak bersedia atau tidak akan memperbarui bahkan membekukan parsial bangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat - syarat utama yang ditetapkan oleh Mahmoud Abbas untuk menghidupkan kembali perundingan.
Sebagian besar kabinet Netanyahu, termasuk menteri luar negeri Avigdor Lieberman, nyaris tak menyembunyikan oposisi mereka pada pendirian negara merdeka Palestina. Sebaliknya, Netanyahu telah memberikan prasyarat sendiri: bahwa Palestina mengakui Israel sebagai negara Yahudi, sebuah syarat yang ditentang oleh internasional.
Seorang analis politik terkemuka mengatakan gambar tidak begitu suram bagi Palestina seperti yang terlihat.
Asad Ghanem, seorang profesor ilmu politik di Universitas Haifa, memprediksi Netanyahu dan kabinetnya akhirnya akan datang untuk melunturkan sifat keras kepala mereka.
Dukungan keras dan tak tahu malu dari "sebuah ideologi supremasi Yahudi" oleh Netanyahu dan pendukungnya akan mengarah pada "penyatuan kembali" secara bertahap dari rakyat Palestina, Dr Ghanem mengatakan dalam sebuah wawancara.
Berpegangan pada visi Greater Israel, Netanyahu dan sayap kanannya memicu nasionalisme kuat Palestina yang bisa datang untuk menghancurkan tidak hanya pendudukan tetapi status Israel sebagai negara Yahudi, kata Dr Ghanem, penulis beberapa buku tentang nasionalisme Palestina.
Dr Ghanem, yang termasuk minoritas Palestina Israel, seperlima penduduk negara itu, mencatat bahwa tujuan asli dari pendiri Israel adalah untuk menggunakan versi canggih taktik politik membagi-dan-menguasai untuk melemahkan gerakannasional Palestina yang menentang Zionisme.
Perang tahun 1948 yang menjadi asal mula Israel menyebabkan perpecahan pertama dan paling signifikan: antara minoritas orang Palestina yang tetap tinggal di dalam wilayah baru Israel dan para pengungsi yang memaksa di luar perbatasan, yang saat ini berjumlah minimal 4,7 juta, menurut Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB.
Sejak tahun 1967, Israel telah memupuk lebih banyak perpecahan: Antara kota-kota dan daerah pedesaan; antara Tepi Barat dan Gaza; antara Yerusalem Timur dan Tepi Barat; antara gerakan utama politik saingan, Fatah dan Hamas, dan antara pimpinan PA dan diaspora.
Prinsip utama Israel adalah untuk menimbulkan perselisihan antara Palestina dengan menempatkan kepentingan masing-masing kelompok ke dalam konflik, kata Dr Ghanem. "bangsa Palestina tidak pernah cenderung berada dalam posisi untuk menjalankan urusannya sendiri."
Dia meremehkan rencana oleh Abbas dan wakilnya, Salam Fayyad, untuk mencoba untuk menghidupkan kembali proses Oslo dengan melewati Israel dan mencari dukungan masyarakat internasional untuk pembentukan negara Palestina musim panas mendatang.
Pertama hak-hak para pengungsi yang dianggap sebagai bagian dari bangsa Palestina akan dikorbankan, kemudian orang-orang Palestina di dalam Israel. Berikutnya bagian Timur Yerusalem dan seluruh Gaza tidak dilibatkan. Dan sekarang akhirnya, katanya, bahkan bagian penting dari Tepi Barat hampir pasti akan dihitung di luar sebuah negara Palestina di masa depan.
"Inti dari negosiasi untuk Abbas adalah mengakhiri pendudukan, tetapi ia telah semakin mengakui definisi Israel yang sangat sempit tentang apa yang merupakan tanah yang diduduki. Hak-hak para pengungsi dan warga Palestina lainnya untuk dimasukkan dalam sebuah negara Palestina sekarang ada di tingkat retorika."
Desakan Hak Israel atas pengakuan Palestina Israel sebagai "negara Yahudi" akan mempercepat mengungkap kebijakan jangka panjang Israel dari memecah-belah rakyat Palestina.
"Semua warga Palestina dipengaruhi oleh permintaan tersebut, bukan hanya mereka yang tinggal di dalam Israel. Gerakan nasional Palestina menerima Israel sebagai sebuah negara sedekade lalu, namun Netanyahu tidak puas dengan itu.
"Dia ingin membuka kembali file tahun 1948," kata Dr Ghanem, mengacu pada perang yang didirikan Israel dengan mengusir dan pengusiran 80 persen rakyat Palestina. "Dia memprovokasi gerakan nasional Palestina untuk menilai kembali model dua-negara untuk mengakhiri konflik."
Dengan semakin sedikitnya warga Palestina yang berpegangan pada keyakinan bahwa Israel akan setuju untuk partisi wilayah tersebut, hambatan fisik dan ideologis antara sub-kelompok Palestina mulai runtuh, katanya.
Perjuangan rakyat Palestina yang terpisah - untuk hak-hak sipil di kalangan minoritas Palestina Israel; untuk pembebasan nasional oleh mereka di wilayah yang diduduki, dan hak untuk kembali bagi mereka yang berada dalam diaspora - sedang digantikan oleh "pertarungan umum terhadap kenyataan dari sebuah etnis apartheid".
Dr Ghanem menambahkan bahwa, ketika Palestina menyadari bahwa mereka tidak akan ditawarkan lebih dari sebuah "negara lumpuh" oleh Israel, paradigma baru akan menjadi "satu negara binasional yang demokratis untuk semua orang Palestina dan Yahudi di Palestina."
Faksi Palestina yang berbeda akhirnya akan menggabungkan platform politik mereka. Gerakan hak-hak sipil dengan cepat muncul di antara Palestina di dalam Israel kemudian akan berfungsi untuk melengkapi perjuangan anti-apartheid di wilayah-wilayah yang diduduki.
Analis Palestina di wilayah yang diduduki kurang optimis.
George Giacaman, kepala Muwatin, sebuah lembaga yang mempromosikan demokrasi Palestina, mengatakan reunifikasi mengambil tempat di antara Palestina adalah "sebagian besar simbolis".
"Ada perasaan akan masalah umum dan perjuangan yang," Mr Giacaman berkata, "tapi divisi geografis antara Palestina begitu mendalam dan telah terjadi begitu lama sehingga sulit untuk melihat bahwa itu sedang diatasi."
Namun, Dr Ghanem berkeras bahwa Palestina di Israel dan wilayah yang diduduki, serta jutaan pengungsi, suatu hari akan datang untuk berterima kasih kepada Netanyahu untuk menyatukan mereka bersama-sama. (iw/meo)
Di depan umum, Netanyahu memelihara komitmennya untuk janji yang dibuatnya tahun lalu, tak lama setelah ia membentuk pemerintah sayap kanannnya, untuk bekerja menuju pembentukan negara Palestina yang didemiliterisasi.
Namun sejauh ini dia telah membuktikan bahwa ia tidak bersedia atau tidak akan memperbarui bahkan membekukan parsial bangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat - syarat utama yang ditetapkan oleh Mahmoud Abbas untuk menghidupkan kembali perundingan.
Sebagian besar kabinet Netanyahu, termasuk menteri luar negeri Avigdor Lieberman, nyaris tak menyembunyikan oposisi mereka pada pendirian negara merdeka Palestina. Sebaliknya, Netanyahu telah memberikan prasyarat sendiri: bahwa Palestina mengakui Israel sebagai negara Yahudi, sebuah syarat yang ditentang oleh internasional.
Seorang analis politik terkemuka mengatakan gambar tidak begitu suram bagi Palestina seperti yang terlihat.
Asad Ghanem, seorang profesor ilmu politik di Universitas Haifa, memprediksi Netanyahu dan kabinetnya akhirnya akan datang untuk melunturkan sifat keras kepala mereka.
Dukungan keras dan tak tahu malu dari "sebuah ideologi supremasi Yahudi" oleh Netanyahu dan pendukungnya akan mengarah pada "penyatuan kembali" secara bertahap dari rakyat Palestina, Dr Ghanem mengatakan dalam sebuah wawancara.
Berpegangan pada visi Greater Israel, Netanyahu dan sayap kanannya memicu nasionalisme kuat Palestina yang bisa datang untuk menghancurkan tidak hanya pendudukan tetapi status Israel sebagai negara Yahudi, kata Dr Ghanem, penulis beberapa buku tentang nasionalisme Palestina.
Dr Ghanem, yang termasuk minoritas Palestina Israel, seperlima penduduk negara itu, mencatat bahwa tujuan asli dari pendiri Israel adalah untuk menggunakan versi canggih taktik politik membagi-dan-menguasai untuk melemahkan gerakannasional Palestina yang menentang Zionisme.
Perang tahun 1948 yang menjadi asal mula Israel menyebabkan perpecahan pertama dan paling signifikan: antara minoritas orang Palestina yang tetap tinggal di dalam wilayah baru Israel dan para pengungsi yang memaksa di luar perbatasan, yang saat ini berjumlah minimal 4,7 juta, menurut Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB.
Sejak tahun 1967, Israel telah memupuk lebih banyak perpecahan: Antara kota-kota dan daerah pedesaan; antara Tepi Barat dan Gaza; antara Yerusalem Timur dan Tepi Barat; antara gerakan utama politik saingan, Fatah dan Hamas, dan antara pimpinan PA dan diaspora.
Prinsip utama Israel adalah untuk menimbulkan perselisihan antara Palestina dengan menempatkan kepentingan masing-masing kelompok ke dalam konflik, kata Dr Ghanem. "bangsa Palestina tidak pernah cenderung berada dalam posisi untuk menjalankan urusannya sendiri."
Dia meremehkan rencana oleh Abbas dan wakilnya, Salam Fayyad, untuk mencoba untuk menghidupkan kembali proses Oslo dengan melewati Israel dan mencari dukungan masyarakat internasional untuk pembentukan negara Palestina musim panas mendatang.
Pertama hak-hak para pengungsi yang dianggap sebagai bagian dari bangsa Palestina akan dikorbankan, kemudian orang-orang Palestina di dalam Israel. Berikutnya bagian Timur Yerusalem dan seluruh Gaza tidak dilibatkan. Dan sekarang akhirnya, katanya, bahkan bagian penting dari Tepi Barat hampir pasti akan dihitung di luar sebuah negara Palestina di masa depan.
"Inti dari negosiasi untuk Abbas adalah mengakhiri pendudukan, tetapi ia telah semakin mengakui definisi Israel yang sangat sempit tentang apa yang merupakan tanah yang diduduki. Hak-hak para pengungsi dan warga Palestina lainnya untuk dimasukkan dalam sebuah negara Palestina sekarang ada di tingkat retorika."
Desakan Hak Israel atas pengakuan Palestina Israel sebagai "negara Yahudi" akan mempercepat mengungkap kebijakan jangka panjang Israel dari memecah-belah rakyat Palestina.
"Semua warga Palestina dipengaruhi oleh permintaan tersebut, bukan hanya mereka yang tinggal di dalam Israel. Gerakan nasional Palestina menerima Israel sebagai sebuah negara sedekade lalu, namun Netanyahu tidak puas dengan itu.
"Dia ingin membuka kembali file tahun 1948," kata Dr Ghanem, mengacu pada perang yang didirikan Israel dengan mengusir dan pengusiran 80 persen rakyat Palestina. "Dia memprovokasi gerakan nasional Palestina untuk menilai kembali model dua-negara untuk mengakhiri konflik."
Dengan semakin sedikitnya warga Palestina yang berpegangan pada keyakinan bahwa Israel akan setuju untuk partisi wilayah tersebut, hambatan fisik dan ideologis antara sub-kelompok Palestina mulai runtuh, katanya.
Perjuangan rakyat Palestina yang terpisah - untuk hak-hak sipil di kalangan minoritas Palestina Israel; untuk pembebasan nasional oleh mereka di wilayah yang diduduki, dan hak untuk kembali bagi mereka yang berada dalam diaspora - sedang digantikan oleh "pertarungan umum terhadap kenyataan dari sebuah etnis apartheid".
Dr Ghanem menambahkan bahwa, ketika Palestina menyadari bahwa mereka tidak akan ditawarkan lebih dari sebuah "negara lumpuh" oleh Israel, paradigma baru akan menjadi "satu negara binasional yang demokratis untuk semua orang Palestina dan Yahudi di Palestina."
Faksi Palestina yang berbeda akhirnya akan menggabungkan platform politik mereka. Gerakan hak-hak sipil dengan cepat muncul di antara Palestina di dalam Israel kemudian akan berfungsi untuk melengkapi perjuangan anti-apartheid di wilayah-wilayah yang diduduki.
Analis Palestina di wilayah yang diduduki kurang optimis.
George Giacaman, kepala Muwatin, sebuah lembaga yang mempromosikan demokrasi Palestina, mengatakan reunifikasi mengambil tempat di antara Palestina adalah "sebagian besar simbolis".
"Ada perasaan akan masalah umum dan perjuangan yang," Mr Giacaman berkata, "tapi divisi geografis antara Palestina begitu mendalam dan telah terjadi begitu lama sehingga sulit untuk melihat bahwa itu sedang diatasi."
Namun, Dr Ghanem berkeras bahwa Palestina di Israel dan wilayah yang diduduki, serta jutaan pengungsi, suatu hari akan datang untuk berterima kasih kepada Netanyahu untuk menyatukan mereka bersama-sama. (iw/meo)
Sumber : suaramedia
Langganan:
Postingan (Atom)
Laman
Daftar
Archives
-
▼
2010
(67)
-
▼
November
(7)
- Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa: Indonesia Ta...
- Kisah Jonathan Pollak, Remaja Yahudi Penentang Pen...
- Blokade Israel Tewaskan Puluhan Warga Palestina
- Mengintip Skenario Israel di Pasar Asia
- Rezim Zionis Menolak Berpartisipasi dalam Konferen...
- Ya Ampun, Serdadu Israel Seret Bocah Palestina Hin...
- Politik Netanyahu Justru Satukan Bangsa Palestina?
-
▼
November
(7)
Diberdayakan oleh Blogger.
Konstributor
Entri Populer
-
Simbol yahudi di atap gedung Iran Air TEL AVIV- -Hasil citra satelit dari bandara Teheran yang berhasil diabadikan layanan Google Earth m...
-
Jakarta - Ketua 'Perayaan Hari Kemerdekaan Israel', Samuel Dahana mengaku sebagai Jemaat Gereja Kristen Jawa di Bandung. Ia khawati...
-
Damaskus - Israel merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir berdaya rusak tinggi, namun tidak pernah menda...
-
(Sahabatalaqsha.com ): Sejumlah orang Yahudi penduduk ‘Israel’ ternyata sudah belasan tahun memboikot produk-produk ‘dalam negeri’ merek...
-
Jember - Indonesia-Israel Public Affairs Committe (IIPAC) bergerak bawah tanah sejak berdirinya. Kelompok 'lobi pro-Israel' ini...
Followers

