Minggu, 04 September 2011

Ketika Merah Putih Berkibar di Bumi Gaza

Ketika Merah Putih Berkibar di Bumi Gaza
Bendara Merah Putih berkibar di tembok RSI yang tengah dibangun di Jalur Gaza.

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina, saat ini telah mencapai 30 persen. Dan bendera Merah Putih pun berkibar di tembok RSI yang terletak di Distrik Bait Lahiya, Gaza Utara tersebut.

Sejumlah televisi asing maupun lokal, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi-organisasi kemanusiaan hingga para pejabat Gaza, silih berganti berkunjung ke lokasi RSI.

"Alhamdulillah, setelah dua bulan berlalu, pembangunan RSI di Jalur Gaza sampai saat ini, per tanggal 21 Juli 2011 sudah mencapai 30 persen lebih," kata Ketua MER-C Cabang Gaza, Abdillah Onim, dalam surat elektronik yang dikirimkannya ke Republika.co.id, Senin (25/7).

Saat ini, kata Abddillah, tahap pembangunan meliputi penggalian dan pengecoran fondasi, basement, pembangunan tembok beton dinding basement dan insulation. "Sampai saat ini, proses pembangunan RSI lancar-lancar saja. Dan tidak ada kendala sama sekali, baik dari segi pengerjaan maupun dari segi ketersediaan material," ungkapnya.

Seluruh relawan MER-C Indonesia di Jalur Gaza berharap kondisi seperti ini tetap berlangsung dan tidak ada perubahan sama sekali. Satu-satunya yang cukup memberatkan tim relawan maupun para pekerja adalah cuaca yang agak ekstrem. Maklum, saat ini telah memasuki musim panas. Di siang hari, suhu di Jalur Gaza bisa mencapai 40-45 derajat Celcius.

Beberapa waktu lalu, MER-C kembali mengirim relawannya ke Gaza untuk mengawasi jalannya pembangunan RSI. Mereka adalah dua orang teknisi dan insinyur; Ahmad Fauzi dan Wahyuddien.

Menurut Abdillah, proses pembangunan RSI akan bertepatan dengan bulan Suci Ramadhan yang kali ini terjadi di musim panas. "Walau dalam keadaan menjalankan ibadah puasa, terpanggang terik panas matahari ditambah perut kosong, relawan MER-C akan tetap bertekad melanjutkan pekerjaan pembangunan RSI," ujarnya.

Abdillah tak henti-hentinya menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga Indonesia yang telah berpartisipasi dalam merealisasikan pembangunan RSI di Jalur Gaza.

"Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Pintu keberkahan akan dibuka seluas-luasnya oleh Sang Khalik. Maka dari itu kami mengimbau kepada para dermawan, donatur dan seluruh masyarakat Indonesia agar bersedia menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu kelanjutan pembangunan RSI," harap Abdillah.

MER-C Cabang Gaza juga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1432 H kepada seluruh umat Islam di Tanah Air. "Kami mohon maaf lahir dan batin. Semoga di bulan suci ini Allah SWT membukakan pintu keberkahan buat kita semua dan amal ibadah kita diterima oleh-Nya," pungkas relawan asal Galela, Maluku ini.


sumber: republika

Legalkan Blokade 'Israel', PBB Dikecam Liga Arab

Bela Aksi Brutal Israel, PBB Dikecam Liga Arab

Asisten Sekretaris Jenderal Liga Arab Urusan Palestina, Mohamed Sobeih, Sabtu (3/9), mengecam laporan PBB mengenai serangan Israel terhadap armada kapal bantuan menuju Jalur Gaza. Karena, PBB memandang blokade Israel atas wilayah Palestina itu sebagai "sah".

Sobeih, yang mencap laporan PBB tersebut sebagai bias, mengatakan itu menandai reputasi PBB dan mendorong serangan serta perang. Demikian laporan kantor berita resmi Mesir MENA.

"Setiap orang tahu mengenai situasi di Jalur Gaza. Anak-anak dan orang lain menemui ajal akibat kekurangan obat gara-gara pengepungan. Israel telah menggunakan segala jenis senjata terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza," kata Sobeih.

Pada 31 Mei 2010, personel pasukan komando angkatan laut Israel melancarkan serangan terhadap rombongan bantuan enam kapal sipil di perairan Laut Tengah dalam perjalanan menuju Jalur Gaza, yang menghadapi blokade.

Delapan warga negara Turki dan seorang remaja Amerika-Turki tewas. Sebanyak 40 orang lainnya cedera di kapal Mavi Marmara. "Keputusan Israel untuk menaiki kapal tersebut dengan kekuatan sebesar itu dalam jarak yang jauh dari zona blokade dan tanpa peringatan terakhir sebelum mereka menaiki kapal adalah berlebihan dan tak beralasan," kata laporan PBB tersebut.

Namun, laporan itu juga mensahkan serangan militer Israel terhadap kapal sipil di perairan internasional. Laporan itu disusun oleh panel empat anggota yang terdiri atas mantan perdana menteri Selandia Baru Geoffrey Palmer, mantan presiden Kolombia Alvaro Uribe, warganegara Israel Joseph Alvaro dan warga Turki Ozdem Sanberk.

Jumat, 02 September 2011

Skenario "Serangan September" Zionis ke Tepi Barat dan Yerusalem

Rezim zionis Israel dengan dukungan kelompok-kelompok ekstrimis sayap kiri, diam-diam melakukan persiapan untuk melakukan serangan terhadap warga Palestina bulan September mendatang.

Persiapan "perang" itu dilakukan sebagai respon atas upaya yang dilakukan Otorita Palestina dalam Sidang Umum PBB bulan September mendatang, untuk mendapatkan pengakuan Palestina sebagai negara dan menjadi anggota penuh di PBB seperti negara-negara lainnya.

Rezim zionis dan kelompok-kelompok ekstrimis sayap kiri di Israel memutuskan untuk membekali para pemukim Yahudi yang tinggal di pemukiman-pemukiman ilegal di wilayah Palestina, dengan granat dan gas air mata. Mereka disiapkan untuk menyerang warga Palestina dengan strategi "anak-anak (Yahudi Israel) melawan anak-anak (Palestina), perempuan lawan perempuan."

Selama ini, orang-orang Yahudi Israel yang tinggal di pemukiman-pemukiman ilegal di wilayah Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem, hampir setiap hari melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap warga Palestina. Banyak pemukim Yahudi ilegal itu yang memiliki senjata dan sudah terlatih untuk menghadapi situasi "bertempur" dengan warga Palestina.

Sedikitnya lebih dari setengah juta senjata otomatis dimiliki oleh para pemukim Yahudi ilegal dan karena memiliki senjata, praktis mereka juga memiliki amunisi yang jumlahnya tak terbatas.

Sejumlah organisasi pemukim Yahudi fundamentalis mengakui bahwa mereka sudah melakukan persiapan untuk melakukan serangan ke sejumlah wilayah Palestina, sejak bulan Agustus kemarin. Dan serangan-serangan itu sejatinya sudah mereka lakukan untuk mencegah upaya yang dilakukan Otorita Palestina di PBB.

Kelompok-kelompok Yahudi fundamentalis itu sudah menyiapkan skenario untuk melakukan konfrontasi saling berhadap-hadapan dengan warga Palestina dengan target menimbulkan jumlah korban sebanyak mungkin di pihak warga Palestina.

Tokoh-tokoh Yahudi ekstrimis yang menjadi "dalang" rencana serangan itu antara lain anggota parlemen Israel Michael Ben-Ari dari Partai Persatuan Nasional yang berhaluan garis keras, serta sejumlah organisasi pemukim Yahudi ekstrimis seperti Hilltop Youth Movement, gerakan Kahane Chai dan tentu saja Menlu Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman.

Rencana "Serangan September" Israel ke Palestina tertuang dalam sebuah dokumen setebal delapan halaman. Dalam dokumen itu disebutkan pula operasi serangan ke kota-kota sampai ke desa-desa Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem, dengan slogan "Mari transformasikan (bulan) September dari sebuah ancaman menjadi sebuah peluang sejarah untuk mengubah aturan permainan."

Surat kabar Israel Haaretz juga membocorkan sebuah dokumen yang menyebutkan bahwa militer zionis sudah mendistribusikan peta dimana dalam peta itu, pemukiman-pemukiman Yahudi ditandai dengan garis merah. Dokumen itu menginstruksikan tentara-tentara zionis untuk menembak di bagian kaki, jika ada warga Palestina yang dianggap terlalu dekat dengan kawasan pemukiman Yahudi.

Instruksi tersebut tidak membedakan apakah warga Palestina yang dianggap mendekati pemukiman sedang melakukan aksi damai. (aisyah/im)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Akibat Serangan Zionis, RSI di Gaza Nyaris Jadi Korban

Akibat Serangan Israel, RSI di Gaza Nyaris Jadi Korban


Di tengah kekhusyukan rakyat Gaza menjalankan ibadah bulan Ramadhan, Zionis Israel kembali menunjukkan kebiadabannya dengan melancarkan sejumlah serangan ke Jalur Gaza.

Beberapa serangan bahkan terjadi di dekat lokasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Bait Lahiya, dan juga dekat posko MER-C Indonesia di Kota Gaza. Pesawat-pesawat tanpa awak dan jet-jet tempur Israel tampak berterbangan di langit Gaza. Sirine ambulans pun mengaung silih berganti untuk mengevakuasi para korban.

"Total korban akibat serangan brutal Israel dalam beberapa hari terakhir ke Gaza diperkirakan sudah mencapai 15 orang dan menyebabkan 30 orang lainnya mengalami luka berat. Para korban dilarikan ke Rumah Sakit Asy-Syifa," ungkap Ketua MER-C Gaza, Abdillah Onim, dalam surat elektronik yang dikirimkan ke Republika.co.id, Sabtu (20/8).

Dillah menuturkan, Jum'at (19/8) sekitar pukul 00.01 WIB atau Kamis pukul 19.00 waktu Gaza, Israel juga melancarkan serangannya ke wilayah Rafah, selatan Gaza. Serangan ini mengakibatkan enam orang yang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa tewas. Serangan Israel juga menghancurkan rumah-rumah penduduk di wilayah tersebut.

Tidak hanya itu, beberapa saat kemudian hantaman bom-bom Israel kembali terdengar. Kali ini suara dan getarannya lebih jelas. "Ternyata ada dua bom lagi yang dijatuhkan Israel tidak jauh dari posko MER-C di Gaza. Serangan Israel ini mengenai markas polisi yang berada di dekat posko MER-C, tempat para relawan MER-C Indonesia selama ini tinggal di Gaza," tutur Dillah.

Pagi tadi, Sabtu (20/8), sekitar pukul 06.45 WIB, situasi di beberapa wilayah Gaza masih terus memanas.

Sehari sebelumnya, Jumat (19/8), lima menit sebelum berbuka puasa di Gaza, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang begitu kencang. Ketika itu Abdillah dan istrinya yang berkewarganegaraan Palestina, sedang dalam perjalanan menuju kota Jabaliya (Gaza Utara) memakai kendaraan umum.

Ketika mereka tiba di Jabaliya, seorang sahabat menghampiri mereka dan berpesan agar berhati-hati, karena beberapa menit yang lalu Zionis Israel baru saja menembakkan roketnya ke daerah Bait Lahiya (Bundaran Syeikh Zaed) dan menewaskan satu orang.

Informasi ini tentu cukup mengagetkan, karena lokasi kejadian hanya berjarak sekitar 30 meter dari lokasi pembangunan RSI. Serangan ini juga disiarkan di radio lokal. "Untunglah pada saat kejadian tersebut, aktifitas pembangunan RSI sedang libur karena memang hari Jum'at," kata Dillah.

Menyusul serangan Israel tersebut, pejuang Gaza dikabarkan melakukan serangan balasan ke Israel yang menyebabkan empat warga Israel tewas. Kemungkinan setelah ini akan ada serangan balasan lagi dari Israel ke Gaza.

"Mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar rakyat Gaza bisa menyelesaikan bulan suci Ramadhan dengan tenang dan damai hingga tibanya hari kemenangan. Semoga Zionis Israel juga tidak mengganggu aktiftas pembangunan RSI, amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Dan aktifitas pembangunan ini tetap bisa berjalan seperti biasa," harap Dillah.

Terkait situasi Gaza yang memanas, Dillah juga mengingatkan seluruh relawan Indonesia dan relawan lokal agar tidak datang ke lokasi RSI terlalu pagi. Dan segera meninggalkan lokasi dan mengamankan diri di dalam rumah atau posko apabila terjadi sesuatu.


sumber: republika

Kamis, 11 Agustus 2011

"Iran Coba Picu Perang Hamas-Israel Demi Rezim Suriah"


Surat kabar Strategy Page menyebutkan bahwa Iran sedang mencoba untuk memicu perang antara Hamas Palestina dan Israel. Ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad agar bisa memanfaatkan situasi perang itu demi mempertahankan otoritasnya menghadapi pemberontakan rakyat.

Surat kabar tersebut mengatakan bahwa Iran telah mencoba untuk menciptakan komunikasi dengan Hamas. Iran juga telah membentuk kelompok-kelompok militan kecil yang loyal kepadanya di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Strategy Page juga menambahkan bahwa Iran telah bersedia untuk melakukan apa saja untuk meringankan tekanan terhadap rezim Suriah.

Iran akan menggunakan kelompok-kelompok yang loyal kepadanya itu untuk mengintensifkan serangan roket kepada Israel, yang dengan demikian diharapkan akan memicu pecahnya perang antara Hamas dan Israel. Meski nanti konflik yang terjadi antara Hamas dan Israel itu pendek, namun ini sudah cukup membantu mengurangi tekanan internasional terhadap rezim Suriah.

Iran memang memiliki kepentingan besar terhadap rezim al-Assad di Suriah.*


sumber: hidayatullah.com

Rabu, 10 Agustus 2011

Situs-situs Arkeologi Gaza yang Terlupakan

KNRP - Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa di Jalur Gaza banyak bidang kekayaan arkeologi yang mencakup peninggalan-peninggalan bersejarah abad yang lalu. Kondisi itu wajar saja lantaran dibayangi oleh berita-berita kejahatan Israel dan pengepungan yang dikenakan pada Gaza sehingga sektor pariwisata dan purbakala Gaza tidak terekspos.

Menurut seorang pejabat pemerintah, Gaza memiliki harta yang besar beriapa peninggalan bersejarah, andai tidak ada blokade daerah ini tentu itu telah menarik sejumlah besar wisatawan.

Di daerah-daerah Gaza terdapat 22 kota bersejarah yang berbeda yang tersebar di Jalur Gaza, yang menceritakan suatu bagian penting dari sejarah Gaza, tetapi kurangnya pengalaman dalam pemulihan dan perawatan lokasi-lokasi bersejarah itu maka tampaknya menjadi kendala.

Departemen Pariwisata Gaza menyalahkan pengepungan Gaza di Jalur Gaza di samping tanggung jawab UNESCO dalam hal ini, dimana UNESCO mengabaikan seruan berulang kali untuk perlindungan peninggalan-peninggalan bersejarah di Gaza.

Mohammed Khallah, Direktur Jenderal Departemen Pariwisata dan Purbakala di Gaza mengatakan bahwa Gaza memiliki sejumlah besar situs dan peninggalan arkeologi yang mengingatkanke periode yang berbeda sejak periode Kanaan sampai periode Ottoman, yang paling terkenal adalah Istana Pasha, yang terletak di kota tua di Gaza.

Dia menambahkan bahwa bangunan bagian belakang istana itu berasal dari periode Mamluk dan dulu sebagai markas perwakilan Gaza di era Mamluk dan periode Ottoman, sedangkan selama era Mandat Inggris tempat itu menjadi kantor polisi, dan Napoleon pernah tinggal di sana selama tiga malam, selama kembali setelah kekalahannya di Acre pada tahun 1799.

Ada juga biara St Hilarion yang merupakan biara-biara yang paling kuno di Palestina, yang merupakan sebuah bukit di mana ditemukan di sini lantai mosaik pasir yang berasal dari era Bizantium, dan dalam situs ini khususnya di Gereja itu terlihat konfigurasi arsitektur basilika dengan tiga galeri yang mengandung lantai mosaik yang indah.

Ada juga Gereja Byzantine di Jabaliya, yang merupakan salah satu gereja yang paling penting di kawasan Mediterania timur dan berasal dari era 408 M, dan memiliki unsur-unsur arsitektur yang terintegrasi dan berisi lantai mosaik berwarna-warni yang menggambarkan kehidupan normal di Kota Gaza.

Saat ini ada permintaan dari warga Gaza untuk mengunjungi situs-situs arkeologi itu, dan jumlah pengunjung pada tahun 2010 sekitar 25 ribu pengunjung, dan dalam enam bulan terakhir ini mencapai 18 ribu pengunjung per tahunnya.(milyas/aljzr)


sumber: knrp

Minggu, 31 Juli 2011

Hamas Serukan Bantu Somalia

Hamas Serukan Bantu Somalia
Anak-anak antri makanan di Somalia


Gerakan Perlawanan Islam “Hamas” menyerukan kepada segenap organisasi HAM dan dunia untuk segera mengulurkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Somalia dan negara tanduk Afrika. Seruan ini terkait bencana kemanusiaan yang dihadapi Somalia dan sejumlah negara tanduk Afrika akibat kekeringan dan kelaparan.

Dalam rilisnya pada Sabtu (30/7), Hamas menyatakan,“Kami melihat situasi di Somalia dan sejumlah negara tanduk Afrika dengan rasa sedih dan bimbang atas kekeringan parah yang mereka alami. Kondisi ini menyebabkan bencana kemanusiaan yang parah yang bisa mengancam kehidupan dan masa depan rakyat Somalia dan sekitarnya.”

Hamas mendesak segenap rakyat Palestina, Arab, Islam, Liga Arab, OKI, LSM dan lembaga dunia untuk memberikan bantuan dan melindungi rakyat Somalia dan sekitarnya dari bahaya yang mengancam kehidupan mereka akibat bencana ini.


sumber: republika

Jumat, 29 Juli 2011

Ribuan Anak-anak Gaza Pecahkan Rekor Layang-layang

Gaza: Lebih dari 15 ribu layang-layang menutupi langit Gaza saat ribuan anak-anak Gaza meramaikan pemecahan rekor dunia bermain layang-layang. Pemecahan jumlah terbanyak itu digelar dalam acara Summer Games di pantai utara Gaza.

Anak-anak itu berdiri di sepanjang Pantai Gaza dan bermain layang-layang secara bersamaan. Mereka mencoba memecahkan rekor bermain layang-layang dengan pemain terbanyak. Rekor sebelumnya dipegang China yang diraih pada April, yaitu sebanyak 10.465 layang-layang.

Sekitar jam enam sore setelah semua layang-layang memenuhi langit Gaza, pihak penyelenggara mengumumkan jumlah sementara adalah 13 ribu layang-layang. Untuk jumlah akhir akan diumumkan pada Jumat (29/7) waktu setempat.

Ini merupakan pemecahan rekor dunia yang ketujuh kalinya bagi anak-anak Gaza dalam dua tahun terakhir. Ini merupakan kegiatan yang dilakukan Perserikatan Bangsa-bangsa, khususnya UNRWA (United Nations Relief and Work Agency) dalam menyediakan hiburan musim panas bagi ratusan ribu anak-anak di jalur Gaza sambil menarik perhatian dunia terhadap dampak blokade Israel.(DOR)

Sabtu, 23 Juli 2011

Pengawal Perdana Menteri 'Israel', Paksa Wartawati Lepas Bra

Beberapa wartawan asing hari Jumat, 22 Juli 2011, mengungkapkan mereka telah dipaksa melepas bra untuk pemeriksaan keamanan sebelum diizinkan masuk ke kantor Perdana Menteri Israel.


Tiga wanita itu diminta petugas keamanan melepaskan pakaian dan bra mereka untuk pemeriksaan x-ray dalam 2 insiden terpisah di kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Yerusalem awal pekan ini.

Ketiganya memenuhi permintaan itu, meski menyebabkan penderitaan mereka, dalam insiden yang dikecam oleh Asosiasi Pers Asing (FPA).

Masing-masing wartawan dibawa ke balik tirai di lobi ruang masuk, kemudian disuruh membuka baju serta menyerahkan bra mereka di hadapan personel keamanan laki-laki dan perempuan untuk dimasukkan ke mesin x-ray.

"The Foreign Press Association mengutuk keras pelecehan wartawan yang menghadiri acara-acara media di kantor Perdana Menteri," kata sebuah pernyataan dari kelompok yang berbasis di Tel-Aviv.

"Perlakuan ini tidak perlu, mempermalukan dan kontra-produktif."

Sara Hussein, yang bekerja untuk Agence France-Presse (AFP), menggambarkan insiden itu benar-benar memalukan.

"Saya hanya bisa menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu yang paling memalukan dalam hidup saya," tulisnya dalam pengaduan ke FPA.

"Saya telah menghadiri pertemuan Presiden di Gedung Putih dan tidak menjadi sasaran yang serupa."

Sementara 2 wartawan perempuan lainnya yang amat tertekan dengan kejadian itu menolak diidentifikasi.

Ketiganya telah mengajukan keluhan ke FPA, yang sedang membahas masalah ini dengan Pemerintah Zionis.

Pejabat di Kantor Perdana Menteri menolak berkomentar secara langsung atas 2 insiden itu dan hanya mengatakan, "Kami menyadari kekhawatiran ini dan kami memperhatikan masalah ini."

Sebelumnya, pada Januari tahun ini, staf keamanan Netanyahu dikecam setelah memerintahkan seorang koresponden Al-Jazeera yang sedang hamil untuk melepas branya saat menghadiri acara untuk pers di sebuah hotel bintang lima di Yerusalem.


sumber: tempointeraktif

Rabu, 20 Juli 2011

AS Bujuk Turki "Berbaikan" dengan 'Israel' Soal Insiden Mavi Marmara

Presiden AS Barack Obama membujuk Turki agar mengakhiri pertikaiannya dengan 'Israel' agar hubungan antara keduanya tidak makin memburuk.

Harian Haaretz menyebutkan, pesan Obama itu disampaikan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton pada Presiden Turki Abdullah Gull, saat kunjungannya ke Ankara pekan kemarin. Clinton juga membicarakan permintaan Obama itu pada Menlu Turki Ahmed Davutoğlu.

Para pejabat pemerintah Turki merespon permintaan itu dengan mengatakan bahwa Turki tetap menuntut Israel menyampaikan permohonan maaf secara resmi dan memberikan kompensasi bagi keluarga aktivis kemanusiaan Turki yang terbunuh dan luka-luka dalam peristiwa serangan Angkatan Laut Zionis ke kapal Mavi Marmara pada 30 Mei lalu.

Kapal Mavi Marmara yang merupakan bagian dari rombongan Armada Kebebasan I dan membawa ratusan aktivis internasional yang akan menyampaikan bantuan ke Gaza, diserbu pasukan elit Zionis saat masih berada di perairan internasional. Akibat serangan itu, sembilan aktivis kemanusiaan asal Turki terbunuh dan belasan aktivis lainnya luka-luka. Israel juga sempat menahan kapal Mavi Marmara di Pelabuhan Ashdod.

Seorang pejabat Israel yang tidak mau diungkap jati dirinya mengatakan bahwa AS saat ini secara intensif melibatkan diri dalam upaya memperbaiki hubungan antara Turki dan Israel. Dan itu berdampak pada ditundanya pengumuman laporan hasil investigasi PBB dalam kasus serangan 'Israel' ke kapal Mavi Marmara. Sekretaris Jenderal PBB Ban ki-Moon tidak bisa berbuat banyak karena tekanan kuat dari Hillary Clinton dan utusan AS di PBB, Suzan Rice.

Haaretz menulis, AS sangat khawatir dengan makin memburuknya hubungan antara Tel Aviv dan Turki dan berusaha keras membujuk Turki agar "berbaikan" kembali dengan 'Israel'. (aisyah/imemc)


sumber: knrp

Rabu, 13 Juli 2011

Bincang-Bincang: "Zionisme Mempermalukan Orang Yahudi dan Agama Yahudi"

Rabbi Dovid Feldman dari organisasi Jews United Against Zionism mengatakan, Zionisme adalah gerakan politik yang tidak merefleksikan agama Yahudi. Zionisme, ujarnya, justru mempermalukan orang-orang Yahudi dan agama Yahudi.

Dalam wawancara dengan Press TV, Feldman mengungkapkan pandangannya tentang Zionisme dan Israel, dan perbedaan antara Yudaisme dengan Zionisme. Berikut petikannya;

Pertanyaan pertama adalah tentang organisasi Anda, bisa anda ceritakan sedikit?

Feldman: Organisasi kami berdiri sekitar tahun 1930-an, di masa awal munculnya filosofi tentang Zionisme, bahkan sebelum tahun 1948, sebelum terbentuknya negara Israel, ketika para rabbi di Palestia dan Eropa menyaksikan bahwa filosofi baru tentang Zionisme ini akan menghancurkan Yudaisme sebagai agama, akan menghancurkan orang-orang Yahudi dan menindas orang-orang Palestina.

Pada masa itu, para rabbi itu menentang keras filsafat Zionisme. Mereka mengingatkan bahwa Zionisme akan menimbulkan bencana dan itulah yang kita saksikan sekarang. Apa yang kami ekspresikan selama ini adalah menyuarakan opini dari banyak komunitas Yahudi pada hari ini, dari seluruh dunia, yang sangat geram melihat apa yang terjadi di Palestina, geram atas apa yang Zionisme lakukan terhadap rakyat Palestina.

Kami melihatnya sebagai bencana serius bagi rakyat Palestina, bencana bagi orang Yahudi, bencana bagi kemanusiaan, dan kami katakan bahwa ini bukan sekedar bahaya dan bentuk fisik, bencana dalam bentuk fisik, tapi telah mempermalukan agama Yahudi. Apa yang telah dilakukan Zionisme terhadap Yudaisme adalah, Zionisme telah mengubah Yudaisme dari konsep melayani Tuhan menjadi sebuah gerakan politik yang kosong dari agama, tak mengenal Tuhan, yang malah memalukan.

Yang jadi masalah, orang-orang Palestina yang melawan penjajahan dan Zionismen, disebut sebagai teroris. Menurut Anda ini sebuah persoalan?

Kita perlu memahami bahwa awal keberadaan Israel dilakukan dengan cara terorisme, yang dimulai dengan meneror semua orang yang tinggal di sana (wilayah Palestina). Di sana ada orang Palestina, Muslim, komunitas Yahudi minoritas dan umat Kristiani. Negara Israel dibangun dengan cara melawan keinginan penduduk pribumi. Orang-orang Yahudi di Palestina, pada waktu itu, tidak senang dengan pembentukan negara baru Israel.

Hal lain yang menarik adalah, semua Muslim meyakini Palestina adalah sebuah tanah suci, Anda tidak boleh merusak atau menghancurkan bagian manapun dari tanah suci. Tapi, kita melihat perusakan itu terjadi hampir setiap hari, ketika pasukan rezim Israel mengusir warga Palestina dan mulai membangun pemukiman Yahudi. Apakah menurut Anda Israel tidak menghormati keyakian suci dan nilai-nilai agama Yahudi?

Feldman: Mereka sama sekali tidak menghormati keyakinan-keyakinan dalam agama Yahudi. Mereka tidak menghormati semua tradisi mereka sendiri yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Mereka ada sekitar 80 atau hampir 100 tahun yang lalu tanpa filosofi, yang bukan cara hidup beragama orang-orang Yahudi dari generasi ke generasi. Apa yang selalu saya pertanyakan adalah sebuah pertanyaan yang sangat tegas, jika, seandainya apakah yang diyakini dunia hari ini bahwa Zionisme dan Yudaisme adalah satu, dimana Zionisme mendapat tempat dalam Yudaisme dan negara Israel mewakili semua Yahudi, dan negara Israel diinginkan oleh semua orang Yahudi? Jika begitu keadaannya, mengapa filosofi Zionisme tidak diciptakan oleh para pemuka agama, oleh guru teori, oleh rabbi-rabbi yang sudah tua? Mengapa Zionisme diciptakan oleh seorang Yahudi kafir, Theodor Herzl? Mengapa?

Jawabannya sangat sederhana, karena filosofi Zionisme sangat bertentangan dengan Yudaisme, karena negara Israel merupakan sebuah bahaya besar, bukan hanya untuk orang Palestina tapi juga untuk orang Yahudi. Filosofi Zionisme tidak akan pernah diciptakan, dan tidak akan pernah bisa tercipta dalam pikiran orang Yahudi yang religius. Zionisme bukan hanya diciptakan oleh seorang Yahudi sekuler, Theodor Herzl adalah seorang Yahudi kafir. Dia membenci Tuhan, membenci agama Yahudi, dan tidak menjalankan ajaran agama Yahudi. Beginilah sebenarnya bagaimana ia menciptakan filosofi Zionisme hanya dalam pemikirannya, karena Zionisme hanya mungkin diciptakan dalam pikiran orang semacam Theodor Herzl.

Anda adalah salah satu pemuka agama yang ikut dalam panel di Konferensi Internasional Pertama tentang Perlawanan Global terhadap Terorisme di Tehran. Anda melontarkan pernyataan yang sangat menarik pada akhir konferensi. Salah satu pernyataan Anda adalah, bahwa semua agama, Yahudi, Kristiani dan Muslim, semua mengutuk semua bentuk terorisme dan mereka semua menghindar dari perilaku dan tindakan tak berperikemanusiaan itu. Sayangnya, negara-negara Barat berusaha mengindetikkan terorisme dengan Islam. Menurut Anda, apakah ada agenda tersembunyi dibalik itu semua, dan siapa mereka yang telah menyebarkan islamofobia di Barat?

Feldman: Informasi yang salah dan kebingungan seperti ini selalu terjadi. Kebingungan kalau tidak menyakitkan, bisa jadi berbahaya. Hal serupa terjadi sebaliknya, ketika orang-orang Yahudi dihadirkan sebagai pihak seiring sejalan dengan Zionisme, dengan semua tindakan yang dilakukan Israel. Sebagai contoh, Israel menampilkan dirinya sendiri sebagai pihak yang mewakili sebua orang Yahudi, ini sangat berbahaya; ini sangat memalukan orang-orang Yahudi sebagai manusia, dan Yudaisme sebagai agama.

Solusi dari semua ini adalah, kita perlu memberikan edukasi, perlu bicara, perlu berdiskusi dan saling bertukar pikiran. Inilah yang kita lakukan dalam konferensi di Tehran, dimana semua persoalan diangkat dan semua kesalahan informasi diklarifikasi, ini sangat penting. Salah satu isu yang diangkat dalam konferensi itu adalah, orang harus memahami bahwa apapun yang dilakukan Israel, tidak merefleksikan agama Yahudi, dan tidak semua orang Yahudi bertanggung jawab atas hal itu, dan ini menjadi sebuah pernyataan yang tegas.

Dalam berbagai wawancara dengan media massa internasional, Anda selalu mengemukakan fakta-fakta bahwa media massa Barat khususnya, sudah dikendalikan dan dikontrol serta mendukung Zionisme. Anda masih percaya dengan hal ini?

Feldman: Ini merupakan persoalan yang sangat disayangkan, ya, dan ini merupakan poin yang sangat penting, karena pada saat yang sama, banyak komunitas masyarakat internasional yang menentang Zionisme, tidak cuma diam tapi muncul ke publik, jika Anda benar-benar mencari, maka Anda akan menemukannya.

Celakanya, di media massa mainstream, di media massa Barat, fakta itu sanga jarang diberitakan. Ini sangat menyedihkan, sehingga masyarakat luas juga tidak punya kesempatan untuk mengetahui fakta di lapangan, untuk benar-benar mengetahui bahwa negara Israel tidak mencerminkan semua orang Yahudi.

Saat ini terjadi gerakan rakyat dan revolusi di berbagai negara Timur Tengah dan Afrika Utara, bagaimana situasi ini akan mengubah posisi dan pengaruh Israel serta negara-negara lainnya yang mendukung Israel dari sisi finansial?

Feldman: Segala sesuatu sedang berubah, dunia sedang berubah. Rabbi-rabbi kami, di awal munculnya Zionisme mengatakan, awalnya Zionisme tidak akan sukses. Ada ayat dalam Yudaisme bahwa yang tidak akan selamanya menang. Kami meyakininya selama berabad-abad dan sekarang kita mulai menyaksikannya,

Kami melihat Zionisme dan negara Israel tidak membawa kita ke arah yang tidak jelas, orang yang benar-benar memahami, lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Sekarang, apa yang akan terjadi di masa depan adalah, orang mulai membuka wawasannya. Para tokoh utama Zionisme, suatu hari, mereka harus menghadapi kenyataan, bukan seperti ini caranya, dan kami sangat berharap, kami berdoa, kami menasehati dan kami meminta semua orang untuk menyadari bahwa apa yang telah dilakukan adalah tindakan yang salah. Kita harus memikirkan kembali pendekatan kita, dan kita harus memahami bahwa kita harus kembali pada kehendak yang kuasa, kita harus kembali pada keadilan, pada agama Yudaisme tradisional dan harus membubarkan negara politis Israel, negara itu adalah bencana.

Seperti Anda tahu, Israel punya senjata nuklir. Apakah menurut Anda Israel suatu hari akan membuat keputusan gila untuk mempertahankan dirinya dan menggunakan senjata nuklir miliknya untuk menyerang negara tetangganya?

Feldman: Pertanyaannya adalah, apakah Israel memang akan mempertahankan diri, kalau mereka mengikuti nasehat say dan benar-benar mau mempertahankan diri, semua Yahudi, semua kawasan Timur Tengah dan seluruh umat manusia, pikirkanlah apa yang telah terjadi, hentikan agenda-agenda politik, dan tolong, mari kita letakkan bagian-bagian yang bersejarah kembali ke tempatnya.

Bagaimana denga negara yang memberikan bantuan finansial pada Israel, seperti AS yang terus memberikan uang, lebih dari dua milyar dollar per tahun pada rezim Israel?

Feldman: Saya harus mengatakan bahwa saya warga negara AS dan saya seorang Yahudi. Saya wajib menghormati pemerintahan negara saya, karena orang Yahudi dilarang memberontak terhadap negara manapun, khususnya di negara saya tinggal sekarang. Saya warga negara AS yang setia, tapi tetap saya harus mengatakan bahwa mungkin rakyat AS yang ingin menolong orang-orang Yahudi. Kami selalu mengatakan apa yang baru kami katakan dua minggu yang lalu, bahwa ada konvensi tahunan AIPAC (organisasi lobi pro-Israel), dan kami mencoba menjelaskan pada dunia, pada peserta konvensi, bahwa mereka melakukan hal yang tidak benar, konvensi AIPAC bukan untuk keperluan kemanusiaan dan bukan untuk kepentingan orang-orang Yahudi, serta bertentangan dengan ajaran agama Yahudi.

Lalu, bagaimana dengan isu "perang melawan teror". Menurut Anda, apakah Zionis akan sukses mengedepankan agendanya, memaksakan kehendaknya pada komunitas internasional? Apakah mereka sudah melakukan hal yang benar ketika mereka mengobarkan perang ilegal?

Feldman: persoalannya bahwa lebih jauh dari itu, karenanya kita perlu memahami awal dari semua situasi ini. Orang kadang hanya berpikir tentang apa yang kita saksikan pada hari ini, problem yang kita lihat hari ini, bahaya yang kita lihat hari ini, serta pertumbahan darah yang kita hadapi hari ini.Kita harus benar-benar kembali ke awal konflik ini, kita harus paham bahwa negara Israel adalah sebuah awal yang salah. Apa yang sejak awalnya sudah salah, sekarang terus berlanjut, belum berhenti dan membahayakan kita semua.

Kita betul-betul perlu menelaah ke belakang, dan tidak melupakannya. Kita harus ingat sejarahnya, dan ini menjadi isu penting, kita harus mengingat bahwa Yahudi dan Muslim, khususnya yang hidup di Palestin, muslim di dunia pada umumnya hidup damai dan harmonis. Israel berupaya untuk menghapus sejarah, mereka ingin menampilkan citra bahwa Arab dan Muslim membenci orang Yahudi.

Untuk prakteknya, yang pertama sekali harus dipahami adalah, negara Israel bukan solusi bagi orang-orang Yahudi. Israel justru menjadi sumber banyak persoalan pada saat ini. Oleh sebab itu, kai selalu katakan bahwa kami berharap, berdoa dan menghimbau semua orang untuk mengerti bahwa solusi dari semua ini adalah penghapusan seluruh negara Israel. (kw/ptv)


sumber: eramuslim

Rabu, 25 Mei 2011

Interupsi Pidato Netanyahu, Perempuan Yahudi Dikeroyok Aktivis AIPAC

Seorang aktivis Yahudi anti pendudukan Zionis di Palestina berupaya menyabot pidato 'Perdana Menteri Israel', Benjamin Netanyahu, di AS. Pidato Netanyahu pun sempat terhenti sejenak sampai polisi menangkap aktivis itu.

Menurut surat kabar Haaretz, Netanyahu berpidato di parlemen AS di Washington DC, Selasa sore 24 Mei 2011 waktu setempat. Namun pidato itu sempat terhenti saat seorang perempuan aktivis bernama Rae Abileah berteriak "Hentikan kejahatan perang Israel!"


Rae Abileah, perempuan Yahudi keturunan Israel, mengaku dipukuli oleh sejumlah aktivis AIPAC setelah ia melakukan interupsi saat Perdana Menteri Zionis Benjamin Netanyahu sedang berpidato di Kongres AS pada Selasa (24/5).

"Saya berteriak 'hentikan penjajahan' dan tiba-tiba mereka (aktivis AIPAC) berlompatan ke arah saya," kata Abileah, yang juga anggota Code Pink, sebuah organisasi anti-perang di AS.

Ia mengklaim pernah melakukan hal yang sama saat Netanyahu berpidato di Jewish Federations General Assembly di New Orleans, bulan November 2010.

"Kami, generasi muda Yahudi yang tidak mau hanya diam dan duduk, dan membiarkan perdana menteri yang melakukan kejahatan kemanusiaan, berbicara. Dia (Netanyahu) baru boleh bicara di Pengadilan Kriminal Internasional di Hague," tukas Abileah.

Perempuan berusia 28 tahun itu bisa menyelinap masuk ke gedung Kongres saat Netanyahu berpidato, setelah ia berhasil mendapatkan kartu tanda masuk dari seorang temannya. "Ketika Netanyahu mulai bicara soal Israel dan demokrasi, saya langsung berdiri dan mengecam operasi-operasi yang dilakukannya, yang bertentangan dengan demokrasi," tukas Abileah.

"Hentikan penjajahan, hentikan kejahatan perang Israel, berikan hak-hak yang sama pada rakyat Palestina," teriak Abileah di tengah pidato Netanyahu.


Netanyahu sempat menghentikan pidatonya sebentar akibat insiden tersebut. Namun, seperti tidak terjadi apa-apa, dia melanjutkan  kembali pidatonya yang memuji kepemimpinan demokratis di AS. Dia juga mengatakan bahwa protes seperti itu adalah bukti bahwa AS menjunjung tinggi kebebasan berpendapat.
"Kau tidak bisa melakukan protes seperti itu di Teheran. Inilah demokrasi sejati," ujar Netanyahu.

Wanita Yahudi-Amerika yang tergabung dalam organisasi HAM bernama Code Pink ini juga menuntut dihentikannya pendudukan Israel di Palestina. Tidak berapa lama berselang, polisi datang dan menyeret Abileah meninggalkan lokasi.

Sebelumnya, Abileah melalui pernyataannya di situs Code Pink telah menyampaikan protes atas sikap Netanyahu yang menolak diakuinya kembali Peta Perbatasan 1967. Netanyahu mengatakan bahwa Peta Perbatasan itu tidak dapat dipertahankan lagi karena daerah-daerah Palestina dalam peta itu telah masuk ke dalam 'wilayah Israel'.

"Tapi yang tidak dapat dipertahankan lagi adalah pendudukan wilayah, kelaparan di Gaza, penahanan aktivis, dan tidak adanya persamaan hak di Israel yang katanya negara demokratis itu," ujar Abileah dalam pernyataan tersebut.

"Sebagai seorang Yahudi dan pembayar pajak di Amerika, saya tidak bisa diam saja ketika kejahatan ini dilakukan atas nama agama saya dan menggunakan uang pajak saya," lanjutnya lagi.

Protes serupa juga terjadi pada saat Netanyahu berpidato di depan pelobi Zionis di parlemen AS, Senin waktu setempat. Kala itu beberapa orang Yahudi berdiri dan membentangkan poster dan mengatakan bahwa mereka menentang 'kebijakan pertahanan Israel'.


sumber : vivanews / eramuslim

Netanyahu: Israel Siap Bermurah Hati, Bila Palestina Lepaskan Hak Pulang dan Tak Miliki Militer

Netanyahu: Israel Siap Bermurah Hati, Bila Palestina Lepaskan Hak Pulang dan tak Miliki Milter
Perdana Menteri Israel, Binyamin Netanyahu tiba di ruang Kongres AS, sesaat sebelum berpidato, Selasa (24/5)


WASHINGTON - Perdana Menteri Israel, Binyamin Netanyahu, di depan Kongres AS, telah menekankan hubungan dekat antara negaranya dan AS serta menggarisbawahi harapannya mengenai perdamaian di Timur Tengah.

Dalam pidatonya, Selasa (24/5) lalu pemimpin Israel menekankan posisi negaranya sebagai 'teman demokrasi Amerika' di kawasan itu, namun mengesampingkan gerakan mengenai isu-isu yang penting bagi Palestina.

"Israel bukanlah mengenai apa yang salah dengan Timur Tengah," ujar Netanyahu kepada anggota perumus undang-undang di AS tersebut. "Israel adalah apa yang benar dengan Timur Tengah."

Ia menekankan masalah utama dalam proses perdamaian dia Timur Tengah adalah penolakan Palestina untuk menerima Israel. "Palestina tidak ingin menerima negara Palestina jika itu berarti menerima negara Yahudi bersamaan di sana," ujar Netanyahu.

Isi pidato itu telah diantisipasi karena sebelumnya dalam sambutan di depan Komite Urusan Publik Amerika Israel (AIPAC), lembaga pelobi terkuat di AS, ia telah bersumpah menggunakan isu itu untuk berbicara tentang 'kebenaran tanpa polesan' mengenai apa yang dibutuhkan untuk mencapai perdamaian dengan Palestina.

Netanyahu dan pelobi Israel-AS sempat bergemeretak setelah sebelumnya Presiden Barack Obama memberi dukungan untuk negara Palestina bersama Israel berdasar perjanjian sebelum 1967.

Konsensi menyakitkan

Netanyahu berkata kepada Kongres bahwa Israel siap untuk membuat 'konsensi menyakitkan' dan akan 'mengambil sikap dermawan' mengenai ukuran negara Palestina masa depan. Namun garis batas masa depan itu harus disepakati di awal.

Ia juga mengatakan masalah pengungsi Palestina harus diselesaikan di luar perbatasan Israel dan Yerusalem harus tetap menjadi ibu kota tunggal, milik Israel Sepenuhnya. Pernyataan itu ditegaskan Netanyahu menanggapi keinginan Palestina untuk menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka.

Anggota komite eksekutif Organisasi Pembabasan Palestina (PLO), Saeb Erekat, menyatakan pidato Netanyahu itu justru mengindikasikan ketidakinginan pemimpin Israel itu untuk berdamai dengan Palestina.

"Kami tidak mendengar kata-kata baru dalam pidato Netanyahu di depan Kongres AS malam ini. Ia memilih untuk mendikte, tidak untuk bernegosiasi," ujarnya.

"Ia tidak sedang melakukan perdamaian dengan Kongres. Tapi di akhir, semua yang ia ucapkan malam ini telah membuktikan bahwa kami tidak memiliki partner perbincangan damai dengan Israel."

Dalam pidatonya, Netanyahu juga menyeru Fatah, partai Abbas, untuk membatalkan perjanjian dengan Hamas, serta menyebut grup yang menguasai Jalur Gaza itu sebagai Alqaidah versi Palestina.

Erekat juga mengkritik tuntutan Netanyahu agar Fatah mengacuhkan upaya rekonsiliasi dengan Hamas. Padahal, menurut Erekat, rekonsiliasi itu adalah prioritas utama rakyat Palestina.

"Rekonsilisiasi dengan Hamas adalah prioritas nomor satu kami, dan siapa pun yang menginginkan solusi dua negara, menginginkan perdamaian, harus tahu bahwa kami harus melewati rekonsiliasi tersebut," ujarnya.

Tuntutan Netanyahu akan dilihat oleh rakyat Palestina sebagai permintaan yang terlalu banyak. "Ia ngin negosiasi, namun sejauh yang dipikirkan pemimpin Palestina, tidak ada yang bisa dinegosiasikan,"ujarnya.

Seperti yang diucapkan sebelumnya dalam pidato di depan Kongres AS, Benyamin menegaskan Israel tidak ingin menarik garis batas ke perjanjian 1967, Ia ingin mempertahankan permukiman utama yang kini telah dibangun, meski itu berada di tanah Palestina yang berarti mengurangi luas wilayah Palestina.

Netanyahu juga menginginkan rakyat Palestina, terutama mereka di pengungsian, untuk melepaskan hak kembali pulang ke tanah Palestina. Tuntutan itu tak lepas dari kecemasan Israel bila seluruh pengungsi kembali ke tanah air, maka akan ada perubahan demografi penduduk Yahudi dengan warga Muslim Palestina.

Tak ketinggalan, Netanyahu juga menekankan Israel akan berdiri sebagai negara dengan kekuatan militer, namun Palestina diminta tak membentuk negara tanpa kekuatan militer dan terakhir, ia menghendaki Palestina mengakui Israel sebagai negara Yahudi.

Dalam pidatonya Netanyahu juga mengambil kesempatan untuk memicu lagi topik kecemasan Israel terhadap Iran yang ditudingnya mengembangkan senjata nuklir. Ia juga menegaskan bahwa para pemimpin Iran harus dilarang dari semua forum-forum internasional di planet bumi.

Israel terlihat begitu menikmati dukungan kuat bipartisan, Demokrat dan Republik, dalam Kongres. Beberapa pemimpin Israel bahkan memberi penghormatan berdiri, meski ada satu orang yang mengejek Netanyahu dalam satu kesempatan. Dengan ringan, Netanyahu menanggapi, protes semacam itu hanyalah indikasi 'demokrasi sesungguhnya'.


sumber : republika

Pengakuan PLO Terhadap 'Negara Israel' Merupakan Kesalahan Sejarah

Pengakuan PLO Terhadap Israel Merupakan Kesalahan Sejarah
Abu Marzuk


MOSKOW -- Wakil Ketua Biro Politik Hamas, Musa Abu Marzuk, menganggap bahwa Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) telah melakukan kesalahan sejarah ketika mengakui entitas Zionis pada tahun 1993, ia menegaskan bahwa Hamas tidak mungkin mengulangi kesalahan ini lagi.


Dalam konferensi pers bersama delegasi faksi-faksi Palestian, Selasa (24/5) yang sedang berkunjung ke Rusia, Abu Marzuk menyatakan, UU internasional dan norma-normanya menyebutkan, suatu partai atau faksi atau organisasi tidak dituntut untuk mengakui sebuah Negara. Oleh arena itu, sangat tidak logis menuntut Hamas mengakui eksistensi Israel.

Menurutnya, pengakuan PLO terhadap 'Israel' merupakan “Kesalahan Sejarah” sebab ia bukan Negara sehingga bisa mengakui sebuah Negara. Abu Marzuk menjelaskan, jika pengakuan harus dilakukan, maka harus dilakukan oleh dua pihak, dan tidak hanya satu pihak saja, seharusnya pengakuan dilakukan di akhir perundingan dan bukan di awalnya.

Setelah bertemu dengan Menlu Rusia, Sergei Lavrov, mewakili faksi-faksi Palestina, Abu Marzuk menyatakan, pemerintah Rusia berjanji memberikan dukungan terhadap pembentukan Negara Palestina ketika pihak Palestina mengajukannya kepada Dewan Keamanan PBB.

Ditambahkan, pembahasan dengan pihak Rusia sangat baik dan konstruktif, kami mendengar sikap Rusia secara rinci seputar pemerintahan bersatu Palestina dan agenda internal Palestina. Kami mendapatkan dukungan penuh dari Menteri Luar Negeri dan pemerintahan Rusia untuk menyusun agenda Palestina, termasuk kesepakatan yang dicapai di Kairo berupa pemerintahan teknokrat dan profesional Palestina, mengembalikan peran PLO berdasarkan kesepakatan Kairo, juga aktifasi peran parlemen seperti yang disepakati dalam rekonsiliasi di Kairo.


sumber : republika

Selasa, 24 Mei 2011

Tekanan Makin Kuat, Akankah Hamas Mengakui 'Negara Israel' ?

Tekanan Makin Kuat, Akankah Hamas Mengakui Israel?
Israel-Hamas

Saat ini berbagai pihak terus menekan Hamas agar mengakui 'Negara Israel' sebagai syarat menerima kesepakatan rekonsiliasi Palestina dan keterlibatannya dalam pemerintah persatuan Palestina yang akan dibentuk yang akan melibatkan dua kekuatan terbesar Palestina Hamas dan Fatah.

Presiden Amerika Obama mendukung sikap Israel menolak rekonsilasi nasional Palestina yang disampaikan di pidato tahunan lobi yahudi AIPAC. “Tidak masuk akal 'Israel' berunding dengan Hamas yang menolak mengakui eksistensi penjajah ini,” tukas Obama.

Presiden Turki Abdullah Goul mengulang lagu yang sama ketika dalam wawancaranya dengan harian Wall Street Journal Amerika edisi kemarin. Ia sepakat penuh dengan presiden Obama bahwa Israel tidak bisa berunding dengan pihak yang tidak mengakui haknya untuk eksistensi. Dan untuk pertama kalinya ia menyampaikan kepada Khalid Misyal saat berkunjung ke Ankara 2006 bahwa Hamas harus “logis” soal pengakuan 'eksistensi Israel'.

Ini adalah tekanan sistematis mendorong Hamas akan melepaskan diri dari poin terpenting dalam piagamnya yakni “menolak mengakui Israel” dengan alasan mendorong perdamaian menyelesaikan solusi dua negara ke depan.

Belum diketahui sikap Hamas terhadap tekanan ini dan seberapa kemampuannya menghadapinya. Jika dinilai dari lahirnya, gerakan ini menolak semua platformnya. Semua pernyataan pejabat Hamas menolak mengakui Israel dan penjajahan Palestina dan tempat sucinya. Namun pada saat yang sama, mereka menawarkan gencatan senjata sepanjang 30 tahun jika berdiri negara Palestina merdeka di perbatasan jajahan tahun 1967 dan kembalinya pengungsi Palestina. Inilah realistis dan logisme paling tinggi dari Hamas.

PLO pernah mengalami tekanan yang sama yang akhirnya mengakui kesepakatan Oslo dan mengakui negara Israel, membuang ‘tindakan terorisme’ dan perjuangan bersenjata, serta mengadopsi solusi dua negara dan perundingan damai sebagai jalan satu-satunya menuju negara Palestina merdeka.

Namun pengalaman PLO berujung kepada kegagalan. 18 tahun setelah perundingan ditempuh PLO, negara Palestina masih jauh panggang dari api. Lebih berbahaya lagi, infiltrasi permukiman yahudi di Tepi Barat tidak lagi menyisakan lahan untuk mendirikan negara Palestina.

Saat elit PLO menandatangani kesepakatan Oslo di taman Gedung Putih Amerika September 1993, jumlah warga pemukim yahudi di Tepi Barat hanya 140 ribu orang. Kini jumlah mereka di Tepi Barat dan Al-Quds mendekati setengah juta warga penjajah.

Yang menyakitkan, saat tekanan terhadap Hamas semakin membesar dari banyak pihak agar mengakui 'Negara Israel' baik dari Amerika dan negara Eropa sebagai syarat ikut dalam perundingan politik, Barack Obama mundur dari sikap menentang permukiman yahudi. Bahkan ia mundur dari alenia paling penting dalam pidato bersejarahnya soal berdirinya negara Palestina di perbatasan Juni 1967 demi menyenangkan lobi yahudi dan meredam kemarahan Netanyahu.

Soal pengakuan terhadap Israel adalah titik paling krusial dalam piagam Hamas dan tidak mungkin melanggarnya secara cuma-cuma hanya untuk merespon tekanan Amerika dan untuk sekadar duduk-duduk dengan sebagian pejabat Amerika dan Eropa. Tekanan itu adalah perangkap yang sudah diatur demikian rapi untuk mengosongkan ideologi Hamas dari tulang punggungnya yang karenanya ia dihormati oleh bangsa Palestina dan mendapatkan kemenangan dalam terakhir dalam pemilu legislatif.

Ketika Netanyahu menolak perbatasan 4 Juni dengan alasan daruratnya keamanan Israel, dan di Gedung Putih mendapat dukungan, maka respon Palestina dari Hamas dan lainnya adalah daruratnya pengakuan terhadap hak Palestina untuk kembali ke tanah air mereka dan berdirinya negara Palestina merdeka dengan ibukota Yerusalem serta menghilangkan (mengosongkan) semua permukiman yahudi. Itu semua harus diputuskan sebelum masuk perundingan.

Jika Rezim Zionis, Amerika dan Eropa memiliki syarat, Palestina juga memiliki syarat. Jika terus memberikan kosensi gratis karena tekanan sana sini, maka Israel akan semakin meremehkan Palestina dengan alasan keamanan atau lainnya. Semoga Hamas belajar dari PLO yang pernah dihinakan dan terjebak dalam perangkat pengaku, bukan hanya terhadap 'Negara Israel', tapi juga 'Israel sebagai negara yahudi'. (Editorial Harian Al-Quds)

 
sumber : republika

Senin, 23 Mei 2011

"Anggota Kongres AS Dipaksa Untuk Mendukung Israel"

Mantan anggota Kongres AS Cynthia McKinney
Mantan anggota Kongres AS Cynthia McKinney
Mantan anggota parlemen AS Cynthia McKinney mengatakan setiap calon anggota kongres harus menandatangani perjanjian untuk memilih mendukung superioritas militer Israel.

"Setiap calon Kongres pada waktu itu membuat janji. Mereka diberi janji untuk menandatangani bahwa Yerusalem sebagai ibu kota Israel," kata McKinney dalam sebuah wawancara dengan Press TV pada hari Minggu kemarin (22/5).

"Anda harus membuat komitmen bahwa Anda akan memilih untuk mendukung superioritas militer Israel serta menjadi asisten ekonomi bagi Israel dan Anda akan memilih untuk memberikan hal itu," tambahnya.

McKinney mengatakan bahwa jika seorang calon tidak menandatangani perjanjian atau tidak melakukan sesuai perjanjian, "maka Anda tidak mendapatkan uang untuk menjalankan kampanye."

Mantan anggota kongres itu mengatakan bahwa setelah ia membuat janji publik maka "taktik telah berubah."
"Ini adalah apa yang dilakukan oleh 535 anggota Kongres Amerika Serikat, 100 senator dan 435 anggota DPR di mana sekarang mereka menulis sebuah paragraf yang pada dasarnya mengatakan hal yang sama."

Pernyataannya itu datang pada saat Presiden AS Barack Obama berjanji untuk mempertahankan superioritas militer Israel atas negara-negara tetangganya di pertemuan tahunan AIPAC pada hari Minggu kemarin.

"Kami (AS) akan mempertahankan keunggulan kualitatif militer Israel. Kami telah meningkatkan pendanaan militer Israel ke tingkat tertinggi," kata Obama dalam pernyatannya.(fq/prtv)


sumber : eramuslim

Jumat, 20 Mei 2011

Sembilan Fakta tentang An-Nakbah – Hari Bencana Ketika 'Negara Israel' Dideklarasikan


Mengapa ribuan pengungsi Palestina di Lebanon dan Suriah hari Ahad 15 Mei lalu bergerak mendekati pagar-pagar yang membatasi mereka dengan tanah Palestina yang dikuasai Zionis?

Mengapa mereka terobos pagar-pagar berduri dan bersetrum dan menyongsong muntahan peluru timah panas yang merobek-robek tubuh mereka?

Jawabnya: mereka ingin pulang ke rumah-rumah yang terpaksa mereka tinggalkan pada 15 Mei 1948 karena serdadu-serdadu Zionis bersenjata mengusir, membunuh, memperkosa dan membakar serta merampas seluruh harta mereka.

Dengan baju di badan, tanpa alas kaki, mereka berjalan kaki berpuluh, beratus bahkan beribu kilometer mencari tempat mengungsi di Suriah, Lebanon, Yordan, Kuwait…


Beberapa dari mereka masih menggenggam dan menyimpan hinggi kini anak-anak kunci pintu rumah mereka. Itulah sebabnya mengapa anak kunci menjadi lambang bagi al-haqqu al-audah – hak untuk kembali. The Right of Return.


Itulah An-Nakbah, Hari Bencana Besar, 63 tahun lalu yang menjadi awal hilang dan dirampasnya rumah, harta benda, lahan pertanian, sumber penghasilan, hingga kota milik rakyat Palestina.

Itulah hari ketika ketika Zionis mengusir penduduk Palestina untuk membuat sebuah negara Yahudi.
Segera setelah rakyat Palestina harus mengungsi, rumah-rumah kosong mereka pun ditempati oleh penjajah Zionis.

Dalam bahasa Arab, An-Nakba atau An-Nakbah bermakna “Kehancuran”. Kehancuran yang kini justru dirayakan oleh Zionis sebagai ulang tahun mereka.


Terdapat beberapa fakta penting tentang An-Nakbah:

1. An-Nakbah adalah akar permasalahan dari konflik Palestina dan Zionis.

An-Nakbah ditetapkan pada tanggal 15 Mei, tepat sehari setelah Zionis mendeklarasikan ‘negara’ mereka pada tahun 1948.

2. An-Nakbah adalah peristiwa traumatis yang menyebabkan kondisi krisis bagi pengungsi Palestina.

Pada penghujung tahun 1948, dua per tiga populasi Palestina diusir oleh Zionis. Sekitar 50% dipaksa keluar dari tanah kelahiran mereka di bawah paksaan tentara militer Zionis.

Sisanya menyelamatkan diri karena pembantaian rakyat Palestina dilakukan Zionis di mana-mana, seperti yang terjadi di Desa Deir Yassin dan Tantura.

3. Pemimpin Yahudi memandang ‘transfer’ sebagai langkah penting dalam pembentukan negara ‘Israel’.

‘Transfer’ yang dimaksudkan adalah pengusiran rakyat Palestina sebanyak mungkin, sebelum negara-negara Arab lain sempat membantu mempertahankan diri.

Cetak biru dari pembersihan etnis ini disebut dengan rencana Haganah, yang oleh Perdana Menteri ‘Israel’ pertama, David Ben Gurion, dijelaskan sebagai:

“Penggunaan teror, intimidasi, pembunuhan, perampasan lahan, pemutusan layanan sosial untuk menghapus populasi Arab yang ada.”

4. Ratusan kota dan desa Palestina dihancurkan sejak hari An-Nakbah.

Kaum Yahudi Zionis mengosongkan lebih dari 450 kota dan desa, sebagian besar di antaranya dihancurkan.

5. Properti dan barang berharga milik rakyat Palestina dirampas habis-habisan oleh Zionis.

Pemerintah ‘Israel’ mengambil lahan para pengungsi dan properti mereka. Tidak ada penghargaan sama sekali terhadap hak-hak rakyat Palestina, termasuk hak untuk kembali ke rumah mereka.

Apa yang hilang dari rakyat Palestina, diakui sebagai milik kaum Zionis; rumah, lahan pertanian, perabotan, baju, buku, hingga hewan peliharaan.

6. Sebagian rakyat Palestina tinggal di daerah yang diakui sebagai daerah ‘Israel’ dan mendapat perlakuan diskriminatif.

Meski sebagian besar penduduk Palestina diusir, sebagian lain bertahan di lahan yang kini disebut sebagai negara ‘Israel’. Mereka mendapat hak pilih dan bekerja di perkantoran, namun tersisihkan dari hukum istimewa yang berlaku khusus bagi Yahudi.

7. Jutaan pengungsi Palestina masih tersebar di penjuru dunia, hingga hari ini.

Saat ini, pengungsi Palestina yang terdaftar dalam data PBB berjumlah sekitar 4,4 juta orang. Diestimasikan masih terdapat 1 juta pengungsi Palestina lainnya yang belum tercatat oleh PBB. Maka dapat disimpulkan, dari 10 juta rakyat Palestina, lebih dari setengahnya berstatus sebagai pengungsi.

8. Hukum internasional menetapkan bahwa para pengungsi memiliki hak untuk kembali.

Seluruh pengungsi di seluruh dunia sebenarnya memiliki hak yang diakui secara internasional untuk kembali ke daerah asal mereka. Kemudian berhak pula menerima kompensasi atas kerugian yang diderita para pengungsi.

Inilah yang terjadi pada perjanjian damai seperti di Kamboja, Rwanda, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Guatemala, Irlandia Utara, Kosovi, Burundi, dan Darfur.

Hak kembali ke daerah asal ini juga telah ditetapkan PBB bagi para pengungsi Palestina pada Resolusi PBB 194 pada 1948.

Akan tetapi, Zionis tidak mengindahkan aturan tersebut dan tetap melarang pengungsi Palestina yang ingin pulang ke rumah mereka.

9. Penyelesaian masalah hak para pengungsi amatlah penting bagi kedamaian di Timur Tengah.

Mayoritas rakyat Palestina sepakat bahwa hak-hak pengungsi perlu dipenuhi terlebih dahulu, sebelum perdamaian antara Palestina dan ‘Israel’ mungkin tercapai.

Berdasarkan polling pada Agustus 2007 yang diadakan Pusat Komunikasi dan Media Yerusalem, sekitar 70 persen masyarakat Palestina percaya bahwa kembali ke tanah air adalah hak setiap pengungsi. (asc)


Sumber : Sahabat Al-aqsha

Menyumbang Otoritas Palestina Sama Dengan Menyumbang Zionis Israel ?

Mahmud Abbas bersalaman dengan PM Netanyahu
Sebuah ulasan tentang buku berjudul ”The Political Economy of Aid in Palestine” diterbitkan oleh Electronic Intifada (18/5), mengungkapkan fakta-fakta yang tidak terlalu mengejutkan, namun tetap penting dicermati.

Di antaranya, kalau Anda menyumbang untuk Otoritas Palestina yang dipimpin oleh Mahmud Abbas, uang itu akhirnya akan mengalir ke ‘Israel’.

David Cronin, pengulas buku itu, menulis bahwa sekitar satu dekade silam sebuah rekor terpecahkan. Untuk meredam ledakan Intifadhah berikutnya sesudah dipicu ulah Ariel Sharon yang menginjak-injak Masjidil Aqsha tahun 2000, pemerintah negara-negara Barat secara dramatis menaikkan jumlah dana bantuan untuk Tepi Barat dan Gaza.

Pada tahun 2002, kawasan-kawasan Palestina yang terjajah menjadi penerima bantuan uang pembangunan dan kemanusiaan terbesar per kapita sejak Perang Dunia kedua.

Apakah rakyat Palestina bersyukur diberi uang senilai 1 miliar dolar per tahun? Dari berbagai wawancara yang dilakukan Cronin baru-baru ini di Yerusalem dan Ramallah jawabannya: tidak.

“Kami tidak menginginkan uang Anda; kami menginginkan solidaritas Anda,” kata seorang perempuan.

Beberapa orang lain yang ditemui Cronin menyebutkan, bahwa, bantuan uang dari luar negeri hanya berfungsi sebagai ”perban pembungkus” penjajahan yang terus berlangsung, tanpa menyembuhkan akar penyakitnya.

Dalam buku ”The Political Economy of Aid in Palestine”, penulisnya Sahar Taghdisi-Rad menggambarkan bagaimana bantuan keuangan yang diarahkan kepada rakyat yang terjajah justru sering menyasar ke saku penjajahnya.

Menurut Taghdisi-Rad, dengan menggunakan miliaran dolar dana bantuan itu ‘Israel’ sedang melakukan ”penjajahan mewah”.

‘Israel’ terus melakukan penindasan militer yang brutal, dan membiarkan berbagai penderitaan yang diakibatkannya diobati secara ala kadar oleh berbagai bantuan internasional.

Alih-alih memaksa ‘Israel’ bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran besar atas hak-hak asasi manusia dan hukum internasional, para negara donor itu justru membiarkan berbagai kebrutalan itu terus terjadi. Dengan cara memperbaiki infrastruktur Palestina yang bolak-balik dihancurkan ‘Israel’.

”Negara-negara donor itu bukan cuma membantu ‘Israel’ memperpanjang ‘penjajahan mewah’-nya, tapi juga secara sengaja mengurangi segala bentuk kebutuhan darurat (sense of urgency) akan tekanan politik yang efektif untuk menghentikan konflik ini,” demikian penulis buku ini.


Zionis Ambil Untung 

Taghdisi-Rad menjelaskan panjang lebar bahwa negara-negara donor secara sengaja mendesain program-program bantuannya untuk keuntungan ‘Israel’.

Penulis buku ini secara khusus membongkar sebuah program yang bernama ”The Palestinian Reform and Development Plan Trust Fund (PRDP – TF)”, yang dibuat oleh Bank Dunia.

Program ini dijanjikan akan mendapatkan kucuran dana sebesar 7,8 miliar dolar sebagian besar dari pemerintah negara-negara Barat selama periode 2008-2010.

Progam ini mendorong terjadinya ”pergeseran politik penting” dari rencana bantuan yang disodorkan oleh Otoritas Palestina.

Pada saat negara-negara donor membiarkan penjajahan brutal yang dilakukan ‘Israel’, mereka mendesak kerjasama yang lebih dalam antara ‘Israel’ dan Otoritas Palestina.

Caranya dengan mengkondisikan agar Otoritas Palestina menggunakan sebagian uang bantuan yang dijanjikan itu untuk membeli listrik dari PLN-nya ‘Israel’, dengan alasan untuk mengurangi ”pemadaman aliran listrik”.

Dalam skala yang lebih luas, praktik seperti ini dilakukan di semua sektor, di mana Otorita Palestina didorong untuk menggunakan miliaran dolar bantuan dari berbagai negara untuk bekerja sama dengan berbagai perusahaan ‘Israel’ demi memenuhi berbagai ”kebutuhan rakyat Palestina”.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghitung bahwa 45% uang bantuan internasional untuk Palestina pada akhirnya justru memperkuat ekonomi ‘Israel’.

Penulis buku ini, Taghdisi-Rad tadinya bekerja untuk badan PBB bernama United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) sampai beberapa bulan silam.

Badan PBB tempatnya dulu bekerja pun dikritiknya lewat buku ini. Pada tahun 1990an UNCTAD sempat menyatakan sikap berani ketika menetapkan prasyarat bagi kemajuan ekonomi di Tepi Barat dan Jalur Gaza adalah diakhirinya penjajahan ‘Israel’.

Kini, tulisnya, UNCTAD “nampaknya juga mengikuti jejak negara-negara donor yang tidak ambisius dalam pembangunan Palestina.”

Penulis juga mengejek sandiwara bantuan yang diberikan oleh orang-orang seperti bekas PM Inggris Tony Blair dengan nama ”proyek-proyek berdampak cepat”.

Pada tahun 2007 kebohongan proyek Blair ini tersingkap. Diantaranya proyek yang katanya memberikan pendampingan dan konsultasi pemasaran kepada para eksportir Palestina, sama sekali tidak menyentuh kenyataan, bahwa ‘Israel’ melakukan restriksi khusus untuk mencegah para usahawan Palestina mengekspor berbagai produknya.

Bantuan AS untuk ‘Israel’

Meskipun kemana-mana ‘Israel’ selalu dikategorikan sebagai ”negara maju” setiap tahun masih menerima donasi dari Amerika Serikat sebesar 3 miliar dolar.

Menurut Taghdisi-Rad uang bantuan AS itu mendukung ‘Israel’ secara langsung ”untuk melanjutkan pembangunan berbagai pemukiman (Yahudi) ilegal dan berbagai kekerasan militer”.

Sebaliknya, AS dan Uni Eropa memaksa pemerintah Palestina yang terbentuk dari hasil pemilu sah tahun 2006, yang dimenangkan Hamas, untuk boleh menerima bantuan uang internasional hanya kalau Hamas ”mengakui Israel”.

Paksaan ini sama saja dengan memaksa Hamas yang dipilih oleh rakyat Palestina untuk menerima sistem apartheid ‘Israel’ atas diri mereka.

“Berbeda dengan negara manapun di dunia, Israel, berdasarkan ideologi Zionis, tidak mendefinisikan dirinya sebagai sebuah negara bagi para warganya, melainkan sebagai sebuah negara hanya untuk orang Yahudi saja,” tulisnya.

“Mengakui sebuah negara yang memperlakukan semua warga non-Yahudi sebagai warga kelas dua bahkan merupakan pelanggaran hukum internasional.”

Buku ini tidak mudah dicerna, meskipun kesimpulan-kesimpulannya cukup lugas. Namun isu-isu penting yang diangkat buku ini biasanya diabaikan oleh pemberitaan media-media yang meliput konflik di Palestina.

Ironisnya, buku ini selesai ditulis sebelum diterbitkannya assessment dari Bank Dunia yang menyatakan bahwa Otoritas Palestina “memenuhi segala syarat untuk pendirian sebuah negara dalam waktu dekat” (“Building the Palestinian State: Sustaining Growth, Institutions, and Service Delivery“).

Kenyataannya, baik saat sekarang, maupun kelak jika Otorita Palestina menjalankan sebuah negara sendiri, negara Palestina ”merdeka” versi mereka lagi-lagi hanya akan jadi pendukung sumberdaya bagi ‘Israel’ semata-mata, karena semua prasyarat yang disusun memang hanya diarahkan untuk seperti itu.*


Sumber : Sahabat Al-Aqsha

Wah... Zionis Berencana Bangun Lagi 1.500 Pemukiman di Jerusalem Timur

Walah...Israel Setujui 1.500 Pemukim Baru di Jerusalem Timur
Permukiman Jerusalem Timur
JERUSALEM--Satu komisi pemerintah Zionis Kamis menyetujui pembangunan lebih dari 1.500 rumah pemukim Yahudi di Jerusalem timur, ketika perdana menteri Israel siap berangkat untuk pembicaraan di Washington, kata sebuah lembaga swadaya masyarakat. Seorang juru bicara LSM Ir Amim, yang telah meminta pada pemerintah Zionis dan Palestina untuk membagi Jerusalem, memastikan bahwa komisi perencanaan kementerian dalam negeri sudah memberikan persetujuan akhir pada proyek itu.


Keputusan itu mengesahkan pembangunan 620 rumah di lingkungan permukiman Pisqat Zeev, dan 900 rumah lainnya di lingkungan permukiman kedua, Har Homa. Dengar pendapat komisi itu berlangsung hanya beberapa jam sebelum PM Benjamin Netanyahu akan terbang ke Washington, tempat ia akan menemui Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Gedung Putih, Jumat, dan melakukan pidato penting ke dua majelis Kongres pekan depan.

Pada Maret 2010, kementerian dalam negeri telah mengumumkan rencana untuk membangun 1.600 rumah pemukim di Ramat Shlomo, lingkungan permukiman Yahudi Orthodok di Jerusalem timur.

Pengumuman itu dibuat ketika Wakil Presiden AS Joe Biden mengunjungi 'Israel', sehingga memicu penentangan sengit Amerika dan memasamkan hubungan dengan Washington selama beberapa bulan.
AS menentang permukiman Yahudi di tanah yang Palestina klaim untuk negara mereka, mengatakannya sebagai "rintangan besar bagi perdamaian". Juru bicara Ir Amim Orly Noi mengatakan bahwa kelompoknya telah mengajukan keberaan resmi pada rencana Har Homa itu, yang ia katakan akan memiliki dampak serius utamanya pada perbatasan tenggara Jerusalem dengan Tepi Barat.

"Mengenai Har Homa, keberatannya dari kami, atas dasar politik," katanya. "Pembangunan yang direncanakan itu akan meluas ... ke arah Betlehem, yang akan menciptakan perubahan yang benar-benar signifikan," ujarnya pada AFP.

Jerusalem timur Arab direbut oleh Israel dengan sisa Tepi Barat dalam Perang Enam Hari pada 1967 dan kemudian dicaplok dalam tindakan yang tidak diakui oleh masyarakat internasional.

Israel menganggap Jerusalem barat dan timur akan menjadi ibu kotanya yang "kekal dan tak dapat dibagi", anggapan yang dinyatakan kembali oleh Netanyahu Senin dalam pidato pada parlemen Israel.

Negara itu tidak menganggap pembangunan di Jerusalem timur sebagai kegiatan permukiman, dan sekitar 180.000 orang Israel tinggal di Jerusalem timur di tengah hampir 270.000 warga Palestina. Rakyat Palestina, bagaimanapun, yakin Jerusalem timur akan menjadi ibu kota negara mereka pada masa mendatang dan dengan sengit menentang perluasan kekuasaan Rezim Zionis di wilayah itu.

Masalah pembangunan permukiman telah memacetkan pembicaraan damai, dengan Rezim Zionis menolak untuk memperpanjang larangan pembangunan yang telah berakhir pada akhir Septemer 2010, tak lama setelah pembicaraan damai langsung antara 'Israel' dan Palestina dimulai lagi. Pemerintah Zionis menolak memperbarui larangan itu dan Palestina menyatakan mereka tidak akan mengadakan pembicaraan sementara permukiman dibangun di tanah yang mereka inginkan untuk negara mereka pada masa depan.

Kamis, 19 Mei 2011

Dituduh sebagai Markas Hamas, Tentara Zionis Tutup Paksa Sebuah Masjid di Yerusalem



Pemerintah Zionis telah menutup Masjid Ibnu Qudaamah yang terletak di jalan Ikhwan al-Safa di lingkungan Wadi al-Jawz Yerusalem, menyatakan bahwa masjid itu digunakan sebagai markas Hamas.

Pasukan Zionis, yang termasuk penjaga perbatasan dan petugas intelijen, juga menangkap dua orang yang kebetulan hadir di lokasi masjid.

Pasukan Zionis mendobrak pintu masuk utama dan beberapa item masjid disita sebelum menutupnya dengan memasang palang larangan masuk, penduduk setempat melaporkan.

Properti masjid yang diambil termasuk spanduk dan mikrofon yang digunakan untuk memanggil orang untuk shalat atau adzan.

Amjad al-Shami dan Hamzah Muswadda ditangkap setelah serangan pasukan Zionis sewaktu mereka berada di dekat pintu masuk masjid.

Para tentara Zionis menggantung pengumuman di pintu terkait keputusan untuk menutup masjid serta sebelumnya menjelaskan bahwa masjid telah digunakan sebagai markas untuk Hamas dan oleh karena itu dinyatakan ditutup oleh menteri keamanan internal Israel.

Warga membantu membuka masjid bulan lalu karena tidak ada masjid lain yang melayani warga di daerah tersebut. Masjid juga dibangun berasal dari properti yang disumbangkan atau hasil wakaf Islam. Namun Zionis tidak menghormati hal tersebut.(fq/pic)


sumber : eramuslim

Pasukan Indonesia Ikut Menjaga Unjukrasa Peringatan Nakba di Libanon

Pasukan Indonesia Berhasil Cegah Bentrok Warga Palestina dan Militer Israel
Warga Palestina menggelar aksi demonstrasi untuk memperingati Hari Nakba atau Hari Bencana.

LEBANON-- Satgas Yonmek Kontingen Garuda (Konga) XXIII-E/UNIFIL atau Indonesia Battalion (INDOBATT) akhirnya dapat mengendalikan massa pascabentrok antara warga sipil Palestina dengan tentara Israel (Israel Defence Force/IDF).
Perwira Penerangan (Papen) INDOBATT Mayor Pasukan Banu Kusworo melalui surat elektronik dari Lebanon, Kamis, melaporkan bentrok itu terjadi di area operasi Kontingen Perancis (FCR) pada 14-15 Mei lalu saat Peringatan Nakba (Hari Kelahiran Israel 14 Mei 1948).

"Komandan Satgas Yonif Mekanis Konga XXIII-E/UNIFIL Letkol Inf Hendy Antariksa sudah mengantisipasi situasi itu dengan menempatkan pasukan BMR (Battalion Mobile Reserve) di wilayah Flag Point (wilayah sensitive area blue line)," katanya.

Selain anggota Kompi Alfa yang setiap hari bertugas di sana, katanya, kerja sama antara pasukan INDOBATT dengan tentara Lebanon (Lebanese Armad Forces/LAF) dan kepolisian Lebanon juga mampu mengendalikan konsentrasi massa dari mahasiswa American University Beirut.

"Unjuk rasa berhasil diredam oleh pasukan INDOBATT hingga massa mulai membubarkan diri pada pukul 21.00 waktu setempat," katanya.

Sejak 11 Mei 1948, warga Palestina kehilangan tanah kelahirannya karena wilayahnya telah didaku (diklaim) sebagai wilayah Israel, sehingga peringatan Nakba memicu warga Palestina berunjuk rasa menentangnya, karena Hari Nakba merupakan Hari Bencana bagi warga Palestina.

Selain di perbatasan Syria yaitu di wilayah ketinggian Bukit Golan, unjuk rasa juga terjadi di sepanjang wilayah "sensitive area blue line" yang merupakan perbatasan antara Israel dengan Lebanon.

"Kasiops INDOBATT Mayor Inf Hendriawan Senjaya melaporkan peristiwa unjuk rasa terjadi mulai 14 Mei 2011 pukul 19.00 waktu setempat dan massa mulai membubarkan diri pada pukul 21.00 waktu setempat," katanya.

Peristiwa unjuk rasa kembali terjadi keesokan harinya yaitu pada 15 Mei, namun konsentrasi massa terbesar terjadi di luar wilayah operasi INDOBATT, yaitu di wilayah area operasi Sektor Barat atau tepatnya di daerah Marun Ar 'Ras yang merupakan wilayah Kontingen Perancis (Force Commander Reserve/FCR).

"Unjuk rasa di wilayah itu berlanjut menjadi sebuah bentrokan antara warga sipil Palestina dengan IDF yang memakan korban di pihak sipil Palestina sebanyak 10 orang meninggal dunia, tiga luka parah, dan 118 luka-luka," katanya.

Informasinya, hal itu dipicu warga Palestina yang mencoba menyeberang "technical fence" (pagar pembatas wilayah Israel-Lebanon) dan ditanggapi secara represif oleh Israel dengan mengeluarkan tembakan ke arah warga sipil Palestina.

"INDOBATT telah meningkatkan penjagaan di sepanjang blue line dengan cara menempatkan TMOP (Temporary Observation Post) dan setiap saat pasukannya selalu memantau perkembangan situasi yang terjadi," katanya.

Selain itu, INDOBATT bekerja sama dengan LAF juga menerapkan konsep pagar betis di sepanjang "sensitive area blue line" untuk mengantisipasi pembubaran massa yang melintasi dua jalur utama wilayah operasi INDOBATT yaitu Ganduriyah dan El Addaisse.

"Dengan langkah antisipasi yang diterapkan oleh INDOBATT di bawah Komando Letkol Inf Hendy Antariksa, massa akhirnya tidak melanjutkan kegiatan unjuk rasa di wilayah ini dan secara berangsur-angsur mereka kembali dan membubarkan diri," katanya.

sumber : republika

Senin, 16 Mei 2011

‘Israel’ Punya Persenjataan Canggih? Kok Pakai Agen yang Menyamar Sebagai Muslimah Palestina?

Situs Electronic Intifada melansir bukti-bukti betapa angkatan perang Zionis yang dikabarkan sangat canggih itu ternyata menggunakan modus ‘kuno’: menanam agen dan kaki tangan yang menyamar di tengah para pengunjukrasa An-Nakbah pada Ahad 15 Mei kemarin.
Seorang wartawan independen, Jon Elmer, menggambarkan betapa para agen Zionis itu menyamar seolah mereka orang Palestina lalu menangkapi warga Palestina yang sesungguhnya.
Wartawan lainnya, Jared Malsin, mengirimkan foto Reuters yang dimuat The New York Times yang menggambarkan agen Zionis menyamar sebagai Muslimah Palestina bersenjata.

Dalam foto itu, si ‘wanita Palestina’ itu tengah dimasukkan ke sebuah mobil polisi Zionis sesudah ‘menolong menangkap seorang pengunjukrasa Palestina.’

Malsin menggunakan istilah ‘baltagiya’ untuk menggambarkan pasukan preman terorganisir yang ikut menggebuki para pengunjukrasa di Mesir beberapa bulan lalu.
Penggunaan para kaki tangan Zionis yang menyamar sebagai orang Palestina – dikenal sebagai mustarrabin dalam bahasa Arab dan mistaravimdalam bahasa Ibrani – bukanlah hal baru dalam sejarah penjajahan Zionis atas Palestina.
Mustarrabin sendiri berarti “menyerupai orang Arab.”
Pada 2008, empat orang Mujahidin di Bait Lahm (Betlehem) di Tepi Barat ditembaki para komando Zionis yang menyamar sebagai orang Palestina.
Pada Oktober 2010 lalu, beberapa ratus orang warga Palestina yang berunjukrasa damai di desa Ummul Fahmi juga harus berhadapan dengan 1500 polisi Zionis termasuk yang menyamar sebagai orang Palestina. (OH/Sahabat Al-Aqsha)

Jumat, 13 Mei 2011

Samuel Dahana, Aktivis Kristen Yang 'Pro Zionis Israel'

alt
Jakarta - Ketua 'Perayaan Hari Kemerdekaan Israel', Samuel Dahana mengaku sebagai Jemaat Gereja Kristen Jawa di Bandung. Ia khawatir, pihak gereja marah, padahal ia tahu jemaat Gereja Kristen Jawa itu kalem-kalem. Pengakuan itu disampaikan Samuel kepada sejumlah wartawan media Islam, Kamis (12/5/2011) di Jakarta.

Kecintaan Samuel Dahana yang saat ini menjadi Ketua Panitia Perayaan Hari Kemerdekaan Israel pada Israel berawal sejak ia duduk di bangku SMA, bermula dari ajaran dan keyakinan agama Nasrani yang ia anut, bahwa zionis itu ada didalam Al Kitab. Ada alasan khusus, kenapa sampai harus memperingati HUT Israel?

Menurut Samuel, ada firman Tuhan yang mengatakan, “Barangsiapa memberkati Israel akan diberkati. Dan barangsiapa yang mendukung Israel akan diberkati, dan olehmu semua bangsa akan diberkati.” (Kejadian 12 : 3). Firman inilah yang menjadi istimewa. Ketika banyak orang mengutuk dan mengecam Israel, kami tetap memberkati.

Sudah sangat jelas, Zionis Israel adalah Bangsa penjajah. Dalam hal ini, Israel telah menjajah bangsa Palestina. Pembukaan UUD 45 disebutkan, penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi. Lalu apa kata Samuel?

“Bagi kami, ada perbedaan persepsi, jika dikatakan Israel menjajah Palestina. Persepsi kami adalah Israel itu tidak menjajah Palestina. Karena sejarah mencatat, negara Palestina itu tidak ada, bahkan raja-raja Palestina itu memang tidak ada. Secara historis, sejarah tidak mengatakan demikian.” 

Yang ada sekarang ini, kata Samuel, adalah hanya orang-orang Jordan, dan Palestina itu sendiri baru terbentuk setelah Israel merdeka. “Mereka menyebut dirinya orang Palestina. Jadi orang Palestina itu ya orang Arab itu. Tapi negara Palestina itu sebenarnya tidak pernah ada. Itu keyakinan kami. Dan kami melihatnya dari sisi kebenaran sejarah, walaupun Israel mendapat kecaman dunia,” jelasnya.

Ditanya, sejauh mana Anda menilai konflik Palestina-Israel? "Saya melihatnya sebagai tragedi kemanusiaan, orang disuruh pindah, namun masing-masing punya kepentingan, merasa benar sendri.”

Anda mengaku Nasrani, bukankan di kalangan Kristiani ada yang mengkritisi Israel? Kenapa Anda justru pro Israel? “Orang Kristen yang kontra terhada Israel memang ada. Bahkan orang Yahudi sendiri juga mengkritisi zionis Israel,” jawabnya lugas.

Harapan Samuel, citra Israel harus diungkap kebenarannya, mau jelek atau bagusnya. Jika Israel melangar kemanusian dihukum saja. “Sekarang ini seperti perang media. Setidaknya, masyarakat bisa memahami Israel secara terbuka. Sehingga kita diberkati. Negara kita kan kaya raya, tapi panennya sering gagal, itu tandanya tidak diberkati.”


 

Polri Tak Izinkan 'Perayaan HUT Israel'

"Bahkan seandainya telah memenuhi prosedur pun tak boleh mengibarkan bendera Israel."

Anton Bahrul Alam (Martuji | Surabaya)

Mabes Polri tak mengizinkan perayaan hari jadi 'negara Israel' yang rencananya akan diadakan Sabtu 14 Mei 2011 oleh Komunitas Yahudi Indonesia.

"Kami sudah cek di semua Polres di Jakarta. Tak ada kelompok yang meminta izin untuk merayakan HUT berdirinya Israel," kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Anton Bachrul Alam, di Mabes Polri, Jumat 13 Mei 2011.

Anton menjelaskan pengajuan permohonan izin aksi di ruang publik harus diserahkan ke polisi paling tidak seminggu sebelum acara agar bisa dikaji dan diproses lebih lanjut. "Kalau hari ini minta izin, jelas tak akan dikabulkan karena waktunya terlalu mepet," jelas Anton.

Anton juga mengungkapkan Polri tak akan segan-segan membubarkan perayaan 'HUT Israel' jika ada kelompok yang tetap nekat merayakan.

"Bahkan seandainya telah memenuhi prosedur pun tak boleh mengibarkan 'bendera Israel' di Indonesia," tutup Anton.
• VIVAnews

Istana Larang Komunitas Pro Zionis Rayakan 'HUT Israel'

Julian (Foto: K Yudha Wirakusuma/Okezone)
Julian (Foto: K Yudha Wirakusuma/Okezone)
JAKARTA - Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha dengan tegas mengatakan akan melarang perayaan HUT Israel oleh komunitas Yahudi di Jakarta pada pada 14 Mei mendatang. Dengan catatan apabila kegiatan tersebut meresahkan masyarakat.

"Tidak boleh ada pihak manapun yang bisa melakukan tindakan atas nama apapun yang berakibat meresahkan masyarakat. Jadi jelas akan ada tindakan dalam pengertian itu akan ditertibkan," katanya di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (13/5/2011).

Julian juga mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. "Jadi kepolisian tentu akan melaksanakan tugas sebagaimana protap atau prosedur yang berlaku," imbuhnya.

Oleh karena itu, Julian mempersilahkan kepolisian untuk memproses izin menggelar acara yang diajukan pihak panitia. “Saya belum tahu (apakah akan diberi izin), silakan tanyakan pada pihak kepolisian. Kemarin kami dengar banyak beredar di media massa dan saya konfirmasi pada kepolisian dan kami dapat laporkan seperti itu.

Dalam kaitan ini, Julian mewakili Presiden telah berkonsultasi dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Sutarman. "Saya telah berkonsultasi dengan pihak kepolisian dan bicara dengan Pak Kapolda untuk mendengar bagaimana pihak kepolisian sudah mendapat laporan terkait hal tersebut," tutupnya.
(ful)


sumber : okezone

Rabu, 11 Mei 2011

Inisiator HUT Israel : 'Saya Menghimbau Umat Kristen Mendukung Yahudi Secara Terbuka... Mendukung Israel Bagian Iman Kristen'

Wawancara Dengan Inisiator 'Perayaan HUT Israel'

"Pengibaran 'bendera Israel' ini adalah awal gerakan umat Kristen dukung Israel dan Yahudi secara terbuka. Selama ini umat Kristen takut-takut. Dengan cara ini saya menghimbau untuk mendukung 'Yahudi dan Israel' secara terbuka." demikian ujar Inisiator HUT Israel, Unggun Dahana.













Headline
Unggun Dahanadi - inilah.com/Agus Priatna



 Jakarta - Komunitas Zionis di Jakarta, Sabtu (14/5/2011) akan menggelar Hari Ulang Tahun (HUT) ke 63 negara Zionis, Siapa saja yang mengikuti? Apa motivasi penyelenggaraan acara tersebut?

Inisiator perayaan HUT ke 63 Israel, Unggun Dahana, menyebutkan tujuan penyelenggaran perayaan kemerdekaan Israel merupakan gerakan umat Kristiani untuk mendukung 'Israel dan Yahudi secara terbuka'.

"Di samping juga kami mendukung dibukanya jalur perdagangan antara Indonesia dan 'Israel'," katanya kepada INILAH.COM melalui pesan elektronik di Jakarta, Rabu (11/5/2011). Berikut wawancara lengkapnya:


Apa motivasi Anda dan teman-teman menggelar perayaan 'HUT Kemerdekaan Israel' di Jakarta?

Pengibaran bendera Israel ini adalah awal gerakan umat Kristen dukung 'Israel dan Yahudi secara terbuka'. Selama ini umat Kristen takut-takut. Dengan cara ini saya menghimbau untuk mendukung Yahudi dan Israel secara terbuka. Mendukung perdagangan Israel dan Indonesia.

Pelaksanaan selajutnya menggalang kerjasama Indonesia dan Israel untuk kepentingan bisnis. Selama ini ada penganut Yahudi tapi diam-diam, ke depannya dengan cara ini supaya terbuka. Seperti Taiwan, meski tidak punya hubungan, bisnis kita besar.

Berapa jumlah komunitas Yahudi di Indonesia?

Ada ribuan di Jakarta, tapi mereka tidak berani terbuka untuk membuka identitas mereka. Kita tidak tahu mereka itu Yahudi karena membaur dengan pribumi cukup kental. Nah untuk acara besok, kami membatasi hanya 10 orang saja, karena kalau melibatkan banyak orang maka itu butuh izin keramaian dari kepolisian sehingga agak repot.

Kalau besar-besarapan juga agak mepet. Seminggu setelah acara tersebut, kita akan menggelar acara serupa di Bandung, Surabaya, Semarang, dan kota-kota besar di Jawa. Mereka berasal dari Muslim, Kristen, China, dan Jawa, semuanya membaur. Nanti juga akan hadir media dari Israel untuk meliput acara kita.

Bagainana dengan rencana penggerebekan oleh kelompok FPI dalam acara tersebut?

Saya tidak khawatir dengan ancaman itu. Ada ancaman atau tidak, kami akan mengibarkan bendera Israel di Jakarta. Kami tidak takut dengan ancaman mereka.

DPR menyarankan agar acara tersebut tidak digelar karena akan kontraproduktif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara?

Umat kristen harus mengungkapkan imannya secara terbuka. Saya sangat menghargai imbauan DPR. Tapai bagaimanapun umat Kristen mengibarkan bendera Israel. Pengibaran bendera Israel ini bagaian dari iman Kristen.

Kita dilindungi oleh UUD 1945 mengenai kebebasan berendapat. Mendukung Israel bagian iman Kristen. Karena umat Kristen ini tidak dipisahkan dari iman Kristen. Kita bukan asal mendukung saja bukan dengan tujuan yang jelas.


sumber : inilah.com

Entri Populer

Followers