Rezim zionis Israel dengan dukungan kelompok-kelompok ekstrimis sayap kiri, diam-diam melakukan persiapan untuk melakukan serangan terhadap warga Palestina bulan September mendatang.
Persiapan "perang" itu dilakukan sebagai respon atas upaya yang dilakukan Otorita Palestina dalam Sidang Umum PBB bulan September mendatang, untuk mendapatkan pengakuan Palestina sebagai negara dan menjadi anggota penuh di PBB seperti negara-negara lainnya.
Rezim zionis dan kelompok-kelompok ekstrimis sayap kiri di Israel memutuskan untuk membekali para pemukim Yahudi yang tinggal di pemukiman-pemukiman ilegal di wilayah Palestina, dengan granat dan gas air mata. Mereka disiapkan untuk menyerang warga Palestina dengan strategi "anak-anak (Yahudi Israel) melawan anak-anak (Palestina), perempuan lawan perempuan."
Selama ini, orang-orang Yahudi Israel yang tinggal di pemukiman-pemukiman ilegal di wilayah Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem, hampir setiap hari melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap warga Palestina. Banyak pemukim Yahudi ilegal itu yang memiliki senjata dan sudah terlatih untuk menghadapi situasi "bertempur" dengan warga Palestina.
Sedikitnya lebih dari setengah juta senjata otomatis dimiliki oleh para pemukim Yahudi ilegal dan karena memiliki senjata, praktis mereka juga memiliki amunisi yang jumlahnya tak terbatas.
Sejumlah organisasi pemukim Yahudi fundamentalis mengakui bahwa mereka sudah melakukan persiapan untuk melakukan serangan ke sejumlah wilayah Palestina, sejak bulan Agustus kemarin. Dan serangan-serangan itu sejatinya sudah mereka lakukan untuk mencegah upaya yang dilakukan Otorita Palestina di PBB.
Kelompok-kelompok Yahudi fundamentalis itu sudah menyiapkan skenario untuk melakukan konfrontasi saling berhadap-hadapan dengan warga Palestina dengan target menimbulkan jumlah korban sebanyak mungkin di pihak warga Palestina.
Tokoh-tokoh Yahudi ekstrimis yang menjadi "dalang" rencana serangan itu antara lain anggota parlemen Israel Michael Ben-Ari dari Partai Persatuan Nasional yang berhaluan garis keras, serta sejumlah organisasi pemukim Yahudi ekstrimis seperti Hilltop Youth Movement, gerakan Kahane Chai dan tentu saja Menlu Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman.
Rencana "Serangan September" Israel ke Palestina tertuang dalam sebuah dokumen setebal delapan halaman. Dalam dokumen itu disebutkan pula operasi serangan ke kota-kota sampai ke desa-desa Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem, dengan slogan "Mari transformasikan (bulan) September dari sebuah ancaman menjadi sebuah peluang sejarah untuk mengubah aturan permainan."
Surat kabar Israel Haaretz juga membocorkan sebuah dokumen yang menyebutkan bahwa militer zionis sudah mendistribusikan peta dimana dalam peta itu, pemukiman-pemukiman Yahudi ditandai dengan garis merah. Dokumen itu menginstruksikan tentara-tentara zionis untuk menembak di bagian kaki, jika ada warga Palestina yang dianggap terlalu dekat dengan kawasan pemukiman Yahudi.
Instruksi tersebut tidak membedakan apakah warga Palestina yang dianggap mendekati pemukiman sedang melakukan aksi damai. (aisyah/im)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar