Sabtu, 23 April 2011

ABG Zionis Saja Tak Tergila-gila Justin, ABG Kita Menangisi


Jumat (22/4), kemarin, Justin Bieber (17), penyanyi kelahiran Ontario, Kanada ini tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang. Bersama kekasihnya Selena Gomez remaja yang menjadi idola ABG itu menginjakkan kaki untuk kali pertama di Indonesia melalui pintu 2E.

Pelantun Never Say Never ini sudah ditunggu ratusan penggemar para ABG Indonesia. Mereka bahkan membawa spanduk, aksesoris yang khusus menyambut kedatangan penyanyi yang ditemukan berkat YouTube ini.

Begitu keluar dari pintu 2E, ia langsung menuju mobil Mercedes Bens silver B 638 QW dan segera berlalu. Sementara para ABG histeris. Mereka menangis. Pasalnya ratusan fans ini sudah menunggu lama, bahkan ada yang menunggu sejak dini hari.

Sebagian besar dari mereka adalah perempuan. Dan sebagian besar tidak bisa melihat konser Bieber karena tidak kebagian tiket.

“Kecewa sekali ternyata enggak bisa ketemu. Pengen meluk dan minta tandatangan," kata Molly sesenggukan, remaja asal Pekalongan yang khusus datang demi bertemu Bieber. Molly bukan satu-satunya remaja yang datang dari daerah. Masih banyak yang lain, bahkan ada pula yang datang dari Batam.

Meski banyak yang kecewa karena tidak bisa bertemu langsung, yang pasti malam ini Bieber akan tetap memberikan aksi terhebatnya. Sebanyak lebih dari 10 ribu penonton akan memadati SICC dengan harga tiket yang dijual mulai Rp 500 ribu sampai Rp 1. 650.000.

Lain Indonesia lain Israel. Di negeri kaum Yahudi, Justin Bieber kurang mampu menarik penggemarnya. Buktinya konser Justin 14 April di Hayarkon Park di Tel Aviv, menurut promotor tiket hanya terjual 24.000 penggemar. Namun demikian, angka tersebut masih jauh di bawah perkiraan, yaitu sebanyak 35.000 penggemar.

Sementara itu, tinjauan Jerusalem Post hanya terjual 21.000. padahal pertunjukan Madonna pada 2009 di tempat yang sama menarik 56.000 orang.

"Mereka membayar terlalu mahal dan tak memasarkannya dengan benar," kata promotor Israel Shuki Weiss, yang menduga acara Justin Bieber sulit dipasarkan. "Saya kira penting bagi setiap artis untuk datang ke Israel, tapi orang perlu mengenal massanya."*


sumber : hidayatullah

Kamis, 21 April 2011

Berapa Juta Dollar Bantuan yang Diberikan Washington bagi Mesin Perang Zionis ?




Ketika pasukan perang Zionis sibuk menggempur Gaza dari darat dan udara awal bulan ini dan membunuh 20 orang Palestina, sejumlah tokoh di Tel Aviv menunjukkan kegembiraannya karena Iron Dome, sistem penangkal roket mereka yang baru, bekerja sesuai rencana. 

Kabarnya, Iron Dome berhasil menangkis beberapa roket “kiriman” para Mujahidin di Gaza, dengan menembakkan rudal-rudal mereka sehingga berbenturan dan meledak di udara. 

Iron Dome sendiri merupakan teknologi pertahanan dan perang yang mulai dikerjakan 2007, sesudah Zionis kewalahan menghadapi hujan roket dari Hizbullah di Lebanon Selatan pada 2006 akhir. 

Sebanyak US$210 juta dihabiskan Zionis untuk menyelesaikan Iron Dome, dan eskalasi pertempuran dengan para Mujahidin Gaza 6 – 10 April kemarin menjadi kesempatan bagi Zionis untuk menguji-coba sistem ini. 

Sebagian pihak yang tak menyetujui proyek Iron Dome ini mengritik mahalnya biaya sistem Iron Dome.


Iron Dome yang proyek pembuatannya dibiayai AS
 

Mesin Ratusan Juta Dolar  

Setiap rudal yang ditembakkan Iron Dome menghabiskan dana US$50 ribu – 100 ribu, dan bertugas ‘menangkis’ roket yang bisa dibuat oleh para Mujahidin dengan harga belasan dolar saja. 

Namun, Washington sudah merestui proyek ini dan menyiapkan rancangan undang-undang yang akan memberi penjajah Zionis US$205 juta untuk melanjutkan Iron Dome. 

Tetapi, US$205 juta dolar itu hanya sebagian kecil dari rencana Amerika Serikat mendukung mesin perang Zionis ‘Israel.’


Rp 25,8 Triliun  

Pekan lalu, Kongres Amerika Serikat menyetujui anggaran belanja 2011 yang di dalamnya termasuk bantuan belanja militer (military aid) bagi Zionis sebanyak US$3 miliar.

US$3 miliar = Rp 25,8 triliun! 

Seorang analis masalah-masalah keamanan Timur Tengah, Josh Ruebner, menyatakan dalam artikelnya New Database Reveals Weapons to Israel, Impact on Palestinians, dana sebesar itu DI LUAR US$415 juta yang disediakan Pentagon untuk proyek-proyek kerjasama missile defense AS – ‘Israel.’ 

Dana miliaran dolar itu adalah ‘cicilan’ ke tiga dari kesepakatan yang berlaku selama 10 tahun (2009 – 2018) bagi Amerika untuk memberi ‘Israel’ military aid senilai US$30 miliar! 

“Sudah umum diketahui, ‘Israel’ adalah penerima bantuan dana militer terbesar dari Amerika Serikat, dan persenjataan yang diberikan Amerika Serikat kepada ‘Israel’ menjadi negara itu sepenuhnya terlibat dalam berbagai pelanggaran hak asasi yang dilakukan ‘Israel’ kepada bangsa Palestina,” demikian Ruebner, yang juga aktivis The US Campaign to End Israeli Occupation – Kampanye AS untuk Mengakhiri Penjajahan ‘Israel.’ 

Selama ini, berapa banyak dari mesin perang ‘Israel’ yang sebenarnya merupakan persenjataan Amerika Serikat, belum diketahui banyak orang. 

Namun belum lama ini, bersamaan dengan Hari Pajak Nasional Amerika, The US Campaign to End the Israeli Occupation meluncurkan sebuah situs yang akan membahas dengan detail berbagai persenjataan yang dibeli dengan uang pajak rakyat Amerika lalu diberikan kepada Zionis untuk membunuh rakyat Palestina selama 2000 – 2009.

Situs itu bernama: How Many Weapons to Israel. 


 

Para aktivis yang meriset data untuk situs itu menemukan bukti, dalam waktu kurang dari 10 tahun dan melalui tiga program transfer persenjataan utama, Amerika Serikat memberi ‘Israel’ lebih dari 670 JUTA senjata dan berbagai peralatan pendukungnya, senilai hampir US$19 miliar! 

Dengan kata lain, dalam waktu kurang dari satu dasawarsa, Washington membanjiri penjajah Zionis dengan persenjataan canggih yang kemudian dipakai untuk melanjutkan penjajahannya atas Masjidil Aqsha dan Palestina, dan membunuhi baik para Mujahidin maupun orang-orang biasa dan anak-anak yang tak berdaya.


Sepuluh Kali Mati 

Salah satu contoh: dalam tiga tahun terakhir ini, Washington menghadiahkan kepada Tel Aviv 47 JUTA buah senjata yang akan dapat membunuh SETIAP orang Palestina sebanyak 10 KALI! 

Kalau setiap orang Palestina yang mati karena ditembak dengan senapan seorang serdadu Zionis, bisa hidup lagi, lalu dibunuh lagi, lalu hidup dan dibunuh lagi sampai 10 kali, maka barulah persenjataan dari Amerika Serikat itu habis dipakai untuk membunuh semua orang Palestina, dari bayi hingga nenek sepuh. 

Kalaulah memang benar Zionis menggunakan persenjataan yang diperolehnya dari Amerika Serikat itu sekedar untuk “membela diri dari serangan teroris” seperti yang selama ini mereka katakan, maka barangkali orang hanya akan keberatan masalah mahalnya proyek bantuan militer Washington untuk Tel Aviv. 

Namun nyatanya, menurut B’Tselem, sebuah organisasi hak asasi di Palestina yang dijajah, selama September 2000 sampai Desember 2009, angkatan perang Zionis membunuh 2,969 orang Palestina yang tidak terlibat dalam kondisi perang apa pun – termasuk nelayan, ibu rumah tangga maupun orang sakit.  

Termasuk pula 735 anak-anak Palestina yang bermata besar dan berambut keriting, yang mungkin sedang main atau sedang tidur ketika tiba-tiba saja pesawat-pesawat tempur Zionis terbang di atas atap rumah mereka dan mencurahkan bom fosfor putihnya.  

Begitulah cara Washington membantu Tel Aviv meneruskan penjajahannya atas Masjidil Aqsha, dan membunuh anak-anak dan bangsa Palestina. (asc)



Minggu, 17 April 2011

Facebook Blokir Halaman Ikhwanul Muslimin


Situs jejaring sosial Facebook memblokir halaman grup Ikhwanul Muslimin Mesir, tanpa memberikan alasan yang jelas.
Abdul Jalil Syarnoubi, editor untuk situs Ikhwan Onlinemengatakan: "Halaman Ikhwanul di Facebook adalah perluasan dari situs internet jamaah Ikhwan, dan halaman itu diblokir menyusul setelah adanya komentar yang diungkapkan oleh anggota parlemen AS di Kongres yang menyatakan keprihatinan mereka tentang kekuatan dan massa Ikhwanul Muslimin."
Syarnoubi dalam sebuah pernyataan kepada surat kabarAsyuruq Alawsath menyatakan bahwa keputusan untuk memblokir halaman Facebook Ikhwan, membuktikan Amerika tidak menghargai kebebasan seperti yang mereka dengungkan, menambahkan bahwa Amerika dan Barat ingin selalu membatasi Islam dalam gambaran seperti yang mereka inginkan.
"Ada konspirasi terhadap opini publik dunia terhadap Ikhwan khususnya, dan Islam dan umat Islam pada umumnya, sedangkan halaman Facebook Ikhwan, justru mewakili Islam moderat dan terbuka untuk dunia, jika dibandingkan dengan propanda Al-Qaidah di internet," tegas Syarnoubi.
Syarnoubi menganggap bahwa upaya memblokir halaman Facebook Ikhwan adalah langkah yang salah, sebagaimana Amerika telah mengulangi kesalahan mendukung para pemimpin Arab otoriter.
Halaman Facebook Ikhwan telah ditutup sehari sebelumnya kemarin, dan menerima surat misterius yang memberitahukan bahwa Facebook memblok semua halaman grup Ikhwan. (fq/islamtoday)

Sabtu, 16 April 2011

Sekitar 1000 Kristen Amerika Daftar Jadi 'Warga Negara Israel'


Media massa ‘Israel’ memberitakan, ada sekitar 1000 orang Kristen Amerika yang telah mendaftarkan diri menjadi warganegara ‘Israel’ dan meminta izin menetap di Tepi Barat yang dijajah Zionis.
Middle East Monitor melaporkan, dengan mengutip yang disebutnya “media ‘Israel’” itu, para pendaftar tersebut menyatakan telah memeluk agama Yahudi dan bersedia bergabung dengan angkatan perang Zionis.
Menurut harian Yedioth Ahronoth, ratusan warga Amerika menyampaikan permohonan menjadi warga ‘Israel’ itu kepada anggota parlemen ‘Israel’ Lian Shem Tov.
Shem Tov menyatakan kepada Baruch Abramovich, seorang aktivis gerakan meyahudikan kaum Kristen, bahwa dia akan mendukung pendaftaran mereka menjadi warga ‘Israel.’
Menurut Abramovich, kelompoknya itu tidak memiliki “ambisi politis” apa pun selain ingin menjadi “bagian dari Israel.”
“Kehadiran orang-orang Amerika ini akan membawa kebaikan bagi perkembangan Tepi Barat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ‘Negara Israel’, bagi ekonomi dan bahkan bagi angkatan bersenjata ‘Israel’,” kata Abramovich.
Tidak dijelaskan kapan dan dimana pertemuan di atas dilaksanakan, serta sampai tahap mana sudah proyek ini berlangsung. (EA/Sahabat Al-Aqsha)

Kamis, 14 April 2011

Mesir Revisi Kontrak Gas, Zionis Terpukul

 

Perdana Menteri (PM) Mesir Essam Sharaf meminta revisi semua kontrak yang terkait dengan ekspor gas alam ke luar negeri, terutama pada Zionis-Israel.

Sharaf mengatakan pada Rabu (13/4) bahwa revisi yang direncanakan Kairo akan menambah pendapatan Mesir tiga hingga empat miliar dolar.

Kesepakatan dengan Tel Aviv merupakan isu yang sangat kontroversial pada masa pemerintahan Presiden terguling Husni Mubarak.

Empat perusahaan Israel telah menandatangani perjanjian untuk mengimpor gas Mesir dengan kontrak 20 tahun. Perjanjian tersebut berulang kali diprotes di pengadilan Mesir karena tanpa konsultasi parlemen. Kubu-kubu oposisi telah lama mengeluh bahwa Mubarak menjual gas alam ke Israel dengan harga preferensial.

Sharaf juga akan bertemu dengan menteri energi Yordania untuk membahas kesepakatan gas dengan negaranya.
Kepala jaksa telah menerima bukti bahwa Mubarak dan Sameh Fahmi menjual gas alam ke Israel dan beberapa negara Barat dengan harga rendah. Namun, Fahmi mengatakan kepada penyidik bahwa ia hanya melaksanakan perintah Mubarak.

Tel Aviv akan sangat terpukul dengan keputusan Kairo yang sebelumnya memasok sekitar 40 persen kebutuhan gas Israel.
Jaksa Agung Mesir melaporkan Mesir mengalami kerugian sekitar 80 milyar EGP atau sekitar 14 milyar USD akibat kontrak-kontrak ekspor gas ke luar negeri yang telah disepakati.

Setiap harinya Mesir menghasilkan 6,3 milyar kubik gas, dengan mengekspor sebagian hasilnya ke Yordania dan Zionis Israel, di samping beberapa perundingan penjualan gas ke negara-negara lain.

Pada tahun 2005, Mesir menandatangai kesepakatan dengan Zionis Israel untuk mengekspor 1,7 milyar m2 gas ke Zionis Israel dalam kurun waktu 20 tahun, dengan harga antara 70 sen hingga 1,5 USD per 1 juta BTU. Sementara harga resmi Internasional adalah 2,65 USD per 1 juta BTU.

Pihak oposisi mesir sangat menentang penjualan gas untuk Zionis dengan harga yang jauh dari standar harga pasar.
Laporan sebelumnya mengatakan, Mubarak dan mantan menteri perminyakan telah dimintai keterangan karena menjual gas dengan harga murah kepada Israel.*


sumber : hidayatullah

Gara-gara Pelarangan Menyembelih Hewan Tanpa Dibius, Muslim dan Yahudi Belanda Kompak

Peristiwa jarang terjadi di Belanda. Gara-garanya rencana parlemen Belanda melarang penyembelihan hewan tanpa dibius. Setelah rencana ini diprotes kaum muslim, kermudian diprotes kaum Yahudi.

Parlemen di Belanda, de Tweede Kamer, mengeluarkan rencana melarang semua penyembelihan hewan tanpa dibius. Gara-gara ini umat Muslim dan Yahudi di Belanda bersama melakukan protes.



Gara-gara Peristiwa Ini, Kaum Muslim dan Yahudi Bisa Kompak...
Rencana aturan penyembelihan hewan di Belanda membuat kaum Muslim dan Yahudi bersatu menentangnya. Terlihat hewan kurban sedang dipotong-potong, ilustrasi

Menurut Partai untuk Hewan Belanda, pembiusan perlu supaya hewan tidak menderita sakit. Jadi ada kesan seolah penyembelihan ritual itu barbar. Maka bermunculan protes. Mula-mula dari kalangan muslim. Kemudian disusul oleh pihak Yahudi. Soal penyembelihan ini hampir ada kesamaan antara orang Yahudi dan Islam.

Yahudi menyebutnya kosjer sementara istilah Islamnya halal. Menurut ajaran Yahudi, supaya daging itu kosjer, hewan harus disembelih. Begitu juga dalam Islam, supaya daging halal, maka hewannya harus disembelih sesuai syariat Islam.

Menurut para rabbi Yahudi menyembelih hewan secara ritual itu tidak barbar. Pendapat ini juga didukung tokoh Islam di Belanda. Yasin Forqani, imam muda asal Maroko, juga mengatakan menyembelih secara Islam tidak menyiksa hewan.

Menurut KH Hambali Maksum , seorang ustad atau kiai di Persatuan Muslim se-Eropa atau PPME, di Den Haag, kerjasama Yahudi-Muslim bukanlah hal yang baru dan aneh. Ia menjelaskan, kalau bertitik tolak pada prinsip lakum dinukum wali adin (red. bagimu agamu dan bagiku agamaku), bekerjasama sama dengan siapa saja tidak masalah.

"Islam dan Yahudi lebih banyak persamaannya dibanding Islam dengan Kristen," katanya.

Sebagai contoh, lanjutnya, Islam dan Yahudi sama-sama tidak mengakui penyaliban Isa atau Yesus. Dan dari segi syariat Yahudi dan Islam sama-sama mengharamkan babi dan mewajibkan penyembelihan hewan.

Yang menjauhkan jarak antara Yahudi dan Islam adalah masalah politis, tambah ustad jebolan Irak ini. "Ya terutama karena kasus Israel," jelasnya.

Dalam masalah politik, tambahnya, justru Yahudi dan Kristen bersatu menyerang Islam.

Terakhir Hambali mengatakan, ia pribadi tidak dilibatkan untuk mendatangi Parlemen Belanda memprotes rencana pembuatan UU pelarangan menyembelih tanpa bius ini. "Seandainya ada keterlibatan, maka PPME-lah yang sewajarnya dilibatkan," katanya. (asc)

Negara Palestina Merdeka, Fantasi Mahmoud Abbas ?


Apa yang Anda lakukan jika kampanye yang Anda lakukan selama satu dekade lamanya tentang sebuah negara Palestina (walaupun sebenarnya hanya Tepi Barat saja) telah mengakibatkan kegagalan total?
Jawabannya tampaknya, jika anda adalah orang Otoritas Palestina (OP) yang disponsori Barat di Ramallah yang diduduki Israel, hal itu untuk berpura-pura bahwa Anda memiliki negara Palestina yang permanen, dan untuk membuat negara-negara lain dalam sandiwara itu.
Hal ini tampaknya menjadi esensi dari strategi PA untuk mendapatkan pengakuan "Negara Palestina" dari Majelis Umum PBB pada bulan September mendatang.
Sudah, OP dalam beberapa bulan terakhir telah mendapatkan pengakuan diplomatik penuh dari sejumlah negara, khususnya di Amerika Latin, kepada otoritas Ramallah. The New York Times mengutip bahwa para diplomat yang mengatakan bahwa jika dibawa ke pemungutan suara di Majelis Umum PBB, maka kemungkinan itu terjadi.
Sebuah negara fantasi
Sebenarnya bagaimana kondisi dari Palestina itu sendiri, bahkan di Ramallah sekalipun?
Seorang kolomnis Al Jazeera menulis bahwa program pembangunan institusi tidak lebih dari sekadar fatamorgana, ditopang oleh trik hubungan masyarakat dan pers yang baik.
Kenyataannya, "institusi utama" yang dibangun OP hanya aparat polisi dan milisi-negara yang digunakan untuk menindas oposisi politik terhadap PA, dan segala bentuk perlawanan terhadap pendudukan Israel. Sementara itu perekonomian Tepi Barat, dan PA itu sendiri, tetap sepenuhnya bergantung pada bantuan asing.
Pengakuan PBB akan seorang rakyat Palestina akan negaranya tidak lebih bermakna dari sebuah "lembaga-bangunan" fantasi, dan bisa mendorong Palestina semakin jauh dari pembebasan nyata dan penentuan nasib sendiri.
Angka dari PA Ramallah berbasis dibenarkan mereka memiliki strategi pengakuan PBB sebagai cara untuk membawa tekanan internasional untuk menanggung di Israel.
"Pengakuan seperti itu akan menciptakan tekanan politik dan hukum Israel untuk menarik pasukannya dari tanah negara lain yang dikenal dengan perbatasan (1967)," kata Riyad al Makli 'menteri luar negeri' Ramallah kepada wartawan pada Januari silam.
Demikian pula, Nabil Shaath, seorang pejabat teras dari Fatah, menjelaskan kepada New York Times bahwa jika negara Palestina diakui oleh PBB, maka "Israel kemudian akan melanggar hak negara sesama anggota setiap hari dan konsekuensi diplomatik dan hukum bisa terwujud, semua hal yang akan menyakitkan bagi Israel. "
Tapi siapa yang percaya fungsi "masyarakat internasional" dengan harapan delusi seperti itu?
Lebanon telah menjadi negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1945, namun ini tidak mencegah Israel untuk menginvasi negara itu tahun 1978 sampai tahun 2000. Harus diingat, pendudukan Israel di Libanon berakhir bukan karena ada tekanan internasional, tetapi hanya karena perlawanan Lebanon yang mengusir Israel dan milisi yang berkolaborasi.
Sejak pemboman besar-besaran atas Lebanon pada tahun 2006, Israel telah melanggar kedaulatan Libanon ribuan kali, itu menurut PBB itu sendiri. Tapi penerbangan pesawat di wilayah udara Libanon dan penculikan warga Lebanon dan pelanggaran lainnya belum pernah diminta "konsekuensi diplomatik dan hukum" untuk menahan Israel secara akuntabel.
Demikian pula, sejak tahun 1967 Israel telah menduduki Dataran Tinggi Golan, yang dimiliki oleh Suriah (juga anggota PBB sejak 1945). Hampir tidak ada perlawanan bersenjata di Dataran Tinggi Golan, juga belum pernah terjadi tekanan internasional agar Israel menarik diri, atau jaminan bagi pengungsi Suriah untuk kembali ke rumah mereka.
Bahkan setelah Israel menganeksasi wilayah secara ilegal pada tahun 1981 (langkah yang dikecam oleh Dewan Keamanan PBB), keheningan masyarakat internasional telah memungkinkan kolonisasi Israel dari Dataran Tinggi Golan untuk terus berlanjut.
Bagaimana dengan Palestina? Jadi, Abbas, negara Palestina macam mana yang hendak dibangun? (sa/aljazeera)

Rabu, 13 April 2011

Anak-anak Dibantai, Ini Dia Bukti Kebiadaban Zionis Israel

    
infopalestina
Anak-anak Dibantai, Ini Dia Bukti Kebiadaban Zionis Israel
Anak-anak korban kebiadaban Israel

REPUBLIKA.CO.ID,GAZA--Dengan sombongnya para pemimpin Zionis mengatakan, tidak ada pengecualian bagi siapapun yang tinggal di Gaza. Pernyataan mereka diikuti dengan langkah nyata dengan membantai anak-anak, wanita dan rumah-rumah warga sipil, untuk menegaskan pada dunia, sejauh mana kebiadaban mereka yang telah menguasai akal serta hati mereka. Anak-anak yang masih bau kencur, dibabat habis dengan rudal serta roket, tak disisakan sedikitpun.


Menurut data resmi yang berhasil dilansir pusat informasi Palestina dari komite emergency Palestina menyebutkan, jumlah syuhada yang gugur sejak awal tahun ini mencapai 50 orang. Tujuh diantaranya adalah anak-anak di bawah tujuh tahun. Sementara yang terluka mencapai 185 orang, 40 di antaranya adalah anak-anak atau setara dengan 40 % dari jumlah yang terluka.

Jubir komite emergency Palestina, Adham Abu Salmiyah dalam pernyataanya pada pusat informasi Palestina menjelaskan, jumlah syuhada yang meninggal dalam agresi Zionis terakhir mencapai 18 orang. Satu di antaranya anak yang sedang bermain bola di lapangan, Mahmud Al-Jarwa.

Kemudian Abu Salmiyah menceritakan tentang kejahatan nyata Zionis terhadap anak-anak, terutama dalam agresinya terakhir. Kejahatan mereka terhadap anak-anak bukan hanya terjadi pada keluarga Al-Halawi dimana tiga bocah yang masih bau kencur gugur syahid, diterjang rudal Zionis yang membuat tubuh mereka tercerai-cerai berai, disebelah timur Syujaeya.

Sebagaimana terjadi pada Mahmud All-Jarwa yang sedang main bola di depan rumahnya, tiba-tiba diterjang rudal Zionis hingga tubuhnya hancur berantakan.

Jubir emergency ini meminta masyarakat internasional untuk bergerak secepatnya menyelamatkan anak-anak Palestina dari kebiadaban agresi Zionis. Karena tindakan mereka jelas-jelas bertentangan dengan semua undang-undang internasional dan kesepakatan Jenewa ke 4.


Perang Al-Furqan
Pada perang Al-Furqan yang digelar di Gaza telah menewaskan 1440 syuhada, 420 syuhada terdiri dari anak-anak dibawah umur, 105 wanita serta 110 usia senja dan manula 60 tahunan lebih.

Dalam agresinya tersebut, Zionis membantai 14 petugas medis dan melukai 5500 orang. 1600 diantaranya adalah anak-anak, kebanyakanya luka bakar, akibat bom phospore yang dilarang di dunia internasional. Sementara  rumah yang hancur akibat serangan ini mencapai 20 ribu unit. 4000 diantaranya rata dengan tanah.

Tinggal satu pertanyaan, apakah dunia masih perlu pada data yang lainnya untuk menjelaskan kejahatan Zionis terhadap hak sipil Palestina, terutama anak-anak dan wanita, agar mereka mau bergerak menghentikan kejahatan Zionis?
Redaktur: Krisman Purwoko
Sumber: info palestina

PBB: Palestina Siap Menjadi Sebuah Negara


Sekjen PBB, Ban Ki-moon. ANTARA/REUTERS/Gerardo Garcia
TEMPO Interaktif, New York -Perserikatan Bangsa-Bangsa hari ini mengeluarkan sebuah laporan yang menyatakan Plaestina sudah siap menjadi negara merdeka.
Kesimpulan itu diambil lantaran Otoritas Palestina sudah mampu mencapai kemajuan penting dalam soal kebijakan di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hokum, dan hak asasi manusia, Meski begitu, laporan PBBini juga menyebutkan soal masih berlangsungnya penjajahan Israel di Tepi Barat dan mandeknya proses perdamaian.
Israel memang masih menempatkan sekitar 650 pos pemeriksaan di senatero tepi Barat. Ratusan permukiman Yahudi, termasuk di Yerusalem Timur juga tetap bercokol. Padahal, itu semua melanggar hokum internasional. “Penjajahan yang mengekang kebutuhan hidup rakyat Palestina secara mendasar harus dikembalikan oleh tindakan-tindakan Israel yang sejalan dengan proses berdirinya negara Palestina,” tulis laporan itu.
Penilaian positif bagi berdirinya negara Palestina ini merupakan yang kedua dalam sebulan terakhir. Dana Moneter Internasional (IMF) pekan lalu memuji kebijakan ekonomi Palestina yang dipimpin Perdana Menteri Salam Fayyad.
Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas memang bertekad meminta pengakuan kemerdekaan atas negaranya dalam Sidang Majelis Umum PBB September mendatang. Pengakuan itu dalam hal negara Palestina dengan batas sebelum Perang 1967 dan beribu kota di Yerusalem Timur.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemarin mempertimbangkan rencana penarikan seluruh tentaranya dari Tepi Barak. Ia menyatakan telah menerima negara Palestina yang sudah diakui lebih dari 100 negara, termasuk Rusia dan sejumlah negara Amerika Latin.
Telegraph/Faisal Assegaf

AS Dituding Halangi Upaya Eropa Damaikan 'Palestina-Israel'

AS Dituding Halangi Upaya Eropa Damaikan Palestina-Israel

Rabu, 13 April 2011 07:22 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, PBB - Amerika Serikat dituding menghalangi upaya Eropa dalam menyelesaikan kebuntuan proses perdamaian Timur Tengah dalam pertemuan internasional pekan ini, kata sejumlah diplomat pada Selasa (12/4). Washington tidak setuju terhadap Kuartet Diplomatik Timur Tengah dalam pertemuan di Berlin pada Jumat, kata beberapa diplomat.

Pejabat tinggi dari Kuartet Diplomatik, terdiri atas Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, dan PBB, telah menunda pertemuan yang dijadwalkan pada Maret. Inggris, Prancis, dan Jerman ingin menggunakan pertemuan Kuartet Diplomatik Timur Tengah untuk mengusulkan skema penyelesaian terakhir konflik Palestina-Israel. Mereka berharap pernyataan dari Kuartet Diplomatik Timur Tengah yang akan menetapkan kerangka kesepakatan seperti perbatasan dan persyaratan keamanan, dapat menjalankan kembali pembicaraan langsung antara Palestina dan Israel.

Menegaskan kekecewaan dari ketiga negara itu, seorang diplomat Eropa mengatakan: "Kami berpendapat ini merupakan waktu yang sangat mendesak untuk Kuartet untuk menyatakan pesan politik yang kuat, jadi kami menyesali pertemuan ini tidak dapat diadakan."

"Tingkat frustasi meningkat di pihak Palestina," kata seorang diplomat dari negara UE lainnya. Kedua diplomat berkomentar dengan syarat identitasnya dirahasiakan. Amerika Serikat menetapkan tenggat waktu pada September tahun ini untuk ketetapan atas pembentukan negara Palestina yang merdeka.

Pembicaraan langsung Palestina-Israel berakhir pada akhir September lalu ketika Israel menolak untuk memperpanjang moraturium mengenai pembangunan pemukiman di wilayah terjajah. Israel memaksa bahwa seluruh permasalahan, termasuk pemukiman, harus disepakati dalam pembicaraan langsung.

AS memveto resolusi Arab yang diajukan ke Dewan Keamanan PBB pada Februari yang akan mengecam pemukiman Israel. Jerman, Prancis dan Inggris menyatakan kekhawatiran setelah jajak pendapat mengenai Timur Tengah mengalami kebuntuan.

Dalam kunjungan ke Israel pekan lalu, Kanselir Jerman Angela Merkel mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar membuat kemajuan dalam proses perdamaian tersebut.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara/ AFP

Entri Populer

Followers