Tampilkan postingan dengan label Syi'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syi'ah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Desember 2010

Wikileaks: Pangeran Saudi Pernah 'usulkan' AS Serbu Hizbullah

Pangeran Saud al-Faisal
Pangeran Saud
Bocoran terbaru kawat diplomatik AS yang dirilis Wikileaks menyebutkan pemerintah Arab Saudi pernah mengusulkan dilakukannya serangan militer ke Lebanon dengan sasaran kekuatan milisi beraliran syiah, Hizbullah yang didukung Iran.

Usulan itu dibuat dua tahun lalu oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Saud al-Faisal, kepada Duta Besar AS untuk Irak, David Satterfield.

Usulan Saud adalah agar serangan militer negara Arab itu didukung oleh tentara AS, kekuatan udara, dan kekuatan laut NATO.

Bocoran itu menyebut Saud menyatakan "dari seluruh fron regional yang sekarang sedang dijajaki Iran, perang di Lebanon untuk menciptakan perdamaian akan jadi pertempuran mudah."


Keengganan AS 
 
Menurut dokumen itu Saud juga menyatakan bahwa perdana menteri Lebanon saat itu, Fouad Siniora, sepakat dengan usulan perang namun hanya Yordania, Mesir, dan Liga Arab yang tahu pasti tentang rencana ini.

Namun Satterfield kemudian meragukan keberhasilan rencana ini secara "politis maupun militer", serta sulitnya mendapatkan mandat baru untuk pasukan penjaga perdamaian Lebanon PBB (UNIFIL).

Seperti ditulis kantor berita AFP, proposal ini diduga juga mengkhawatirkan Washington karena harus mengirim kembali pasukan ke Lebanon setelah terjadi serangan bom bunuh diri di barak marinir AS di Lebanon tahun 1983 yang menewaskan hampir 300 orang.

Proposal itu juga dipandang sebagai cerminan ketakutan Arab Saudi yang menganut paham Islam Sunni, terhadap penyebaran paham Syiah yang dianut Iran.

sumber : bbcindonesia

Selasa, 07 Desember 2010

Khawatir Pengaruh Wikileaks, Negara-Negara Teluk Adakan Pertemuan

Beberapa pemimpin negara UEA nampak menghadiri
konferensi GCC ke 31 yang digelar di Abu Dhabi
pada 6 Desember 2010. Negara-negara Teluk itu menggelar
pertemuan di tengah kekhawatiran akan ancaman Iran.
(Foto: Reuters)
ABU DHABI – Para pemimpin Arab Teluk siap untuk memulai konferensi tahunan di tengah absennya raja Arab Saudi yang sedang sakit dan dengan ketakutan mereka atas dorongan nuklir Iran.

Malu atas kabel diplomatik AS yang dirilis oleh WikiLeaks, yang memperlihatkan sejauh mana kekhawatiran mereka tentang Iran, para pejabat Dewan Kerjasama Teluk (GCC) mengabaikan kebocoran tersebut.

Di malam konferensi, dokumen baru WikiLeaks mengungkapkan bahwa AS telah menuduh Saudi menjadi sumber dana teror.

Dokumen itu mengungkapkan penilaian tahun 2009 oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton yang menyebutkan donor-donor di Arab Saudi sebagai sumber dana paling signifikan bagi kelompok teroris di seluruh dunia.

Mereka juga mencap Qatar dan Kuwait kurang dalam mengejar donor-donor kelompok teroris.

"Negara-negara GCC sangat kecewa dengan kebocoran itu karena mereka biasanya diam dalam sikap politik mereka, tapi mereka tidak pernah secara terbuka menyerukan sebuah serangan terhadap Iran," ujar analis Teluk, Abdulwahab Badrkhan.

"Negara-negara Barat sebelumnya memuji kerjasama negara-negara Teluk dalam memerangi teror," ujar Badrkhan, seraya menambahkan bahwa para pemimpin akan lebih berhati-hati ketika membahas politik dengan AS di masa mendatang.

Kabel-kabel AS mengungkapkan ketakutan luas di antara negara-negara Arab Teluk bahwa program nuklir Iran menutupi dorongan untuk membangun sebuah bom atom.

Raja Abdullah dikutip dari salah satu kabel yang bocor mengatakan bahwa AS "harus memotong kepala ular" dalam merujuk aksi militer terhadap Iran.

Dan Raja Hamad dari Bahrain mengatakan pada Jenderal AS David Petraeus bahwa program Iran harus dihentikan. "Bahaya dari membiarkannya lebih besar dari bahaya menghentikannya."

Negara-negara GCC, takut pada berkembangnya pengaruh Syiah Iran di kawasan itu, tidak menyembunyikan amarah mereka karena disisihkan dari negosiasi tentang program nuklir Iran, yang dimulai kembali pada hari Senin (6/12) di Jenewa setelah hiatus selama 14 bulan.

"Mengapa negara-negara Barat berpikir bahwa isu Iran hanya ada hubungannya dengan mereka saja?" tanya Menteri Luar Negeri Emirat Sheikh Abdullah bin Zayed al Nahayan dalam konferensi keamanan di Manama.

"Segala solusi tentang Iran harus berasal dari kawasan, dan negara-negara GCC harus memiliki peran dalam negosiasi ini," ujarnya. Sekretaris Jenderal GCC Abdulrahman Al Attiyah mengatakan kekuatan-kekuatan dunia harus berkoordinasi dan berkonsultasi dengan negara-negara GCC "karena kami adalah enam negara tetangga Iran dan ada beberapa masalah politik yang harus kita konsultasikan dan informasikan tentang program nuklir Iran." (rin/meo)

sumber : suaramedia

Entri Populer

Followers