Tampilkan postingan dengan label Holocaust. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Holocaust. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2011

Yahudi di Sekeliling Adolf Hitler



Sejarah resmi Perang Dunia II menyebutkan jika Adolf Hitler dengan Nazi-nya merupakan musuh nomor wahid kaum Yahudi Eropa. Versi ini sampai sekarang masih saja diyakini banyak kalangan. Padahal, fakta yang sesungguhnya menyatakan jika Adolf Hitler sendiri dan banyak elit Nazi dan juga pasukan komando Nazi, Waffen-SS, ternyata juga berdarah Yahudi. Siapa saja mereka? Inilah sedikit di antaranya:



Heinrich Himmler

Jenderal utama pemimpin pasukan elit Waffen-SS ini memiliki seorang nenek Yahudi yang bekerja sebagai pedagang buah di Italia. Atas dukungan Hitler, Himmler menugaskan Heydrich untuk mengganti identitas keyahudian neneknya ini. Himmler juga diketahui membentuk satuan-satuan Waffen-SS yang terdiri dari tentara-tentara Nazi berdarah Yahudi yang lebih kejam di dalam peperangan.




Joseph Göbbels

Orator ulung dan Menteri Propaganda Nazi yang terkenal dengan konsep perang urat syaraf dalam Perang Dunia II ini terlahir dari keluarga Yahudi Spanyol. Selama bersekolah, Joseph dijuluki ‘Rabi”. Di dalam karya-karyanya, Gobbels dengan terus terang menyatakan hanya menghormati pendapat-pendapat para profesor Yahudi. Hingga perang berakhir, Gobbels tinggal di rumah ibu mertuanya, Friedlander, yang berdarah Yahudi. Sejarawan David Irving memiliki silsilah keyahudian Gobbels.





Hermann Göring

Jika Himmler komandan pasukan elit Waffen-SS, maka Goring adalah komandan Lutwaffe, angkatan udara Nazi. Ibu kandung dan isteri Goring sepenuhnya berdarah Yahudi.




Adolf Eichmann

Lahir di Haifa, Palestina, dari kedua orangtua yang sepenuhnya Yahudi. Oleh orangtuanya, Eichmann melakukan imigrasi ke Austria dan tinggal di Linz. Eichmann bisa berbahasa Ibrani, Jerman, dan Yiddish (campuran Ibrani-Jerman). Atas upaya Heydrich, dibuat surat sertifikat kelahiran palsu atas nama Adolf Eichmann dengan kota kelahiran di Solingen. Adolf Eichmann ini ditugasi Hitler untuk mengorganisir pemindahan orang-orang Yahudi dari Jerman dan Eropa ke Tanah Palestina.




Alfred Rosenberg

Rosenberg berdarah Yahudi Swedia. Orang ini merupakan ideolog dan tokoh filsafat Partai Nazi. Rosenberg diketahui mengembangkan ideolog dan filosofi Partai Nazi berdasarkan Talmud dan ajaran paganisme Nordik.

Joachim Von Ribbentrop

Tokoh Nazi yang dipercaya Hitler menjabat Menteri Luar Negeri Nazi ini juga berdarah Yahudi. Bahkan Von Ribbentrop ini merupakan sahabat karib dari Chaim Weizmann, Presiden Zionis Israel pertama.


Hans Frank

Ayah dari Hans Frank adalah pengacara berdarah Yahudi di Galicia, Polandia, yang secara resmi mengaku memeluk agama Katholik. Hans Frank yang merupakan pengacara pribadi Hitler, diangkat menjadi Menteri Kehakiman Nazi di Bavaria. Setelah Polandia diduduki Jerman, Hans Frank diangkat menjadi Gubernur Jenderal.


Robert Ley

Menurut penelusuran intensif dari Gerald Kessler[1], nenek moyang dari pimpinan Deutsche Arbeiter Front (Front Pekerja Jerman, semacam serikat buruh) ini semula bernama “Levi”. Ini merupakan nama salah satu suku Israel.


Reinhard Heydrich

Kedua orangtua Heydrich adalah Yahudi. Ayahnya, Heydrich Bruno, adalah seorang pemusik. Atas perintah Hitler, Heydrich banyak membantu memalsukan sertifikat-sertifikat kelahiran sejumlah elit Nazi yang berdarah Yahudi, agar keyahudian mereka bisa ditutupi.


Rudolf Hess

Dilahirkan dari seorang ibu berdarah Yahudi Inggris, Hess ditunjuk sebagai Deputi Kanselir Hitler. Hess yang dikalangan Homoseksual Munich dikenal dengan sebutan ‘Fraulein Anna’ (Nona Anna) ini juga pernah bertugas sebagai asisten Profesor Karl Ernst Haushofer, guru geopolitik Hitler yang juga Yahudi tulen.


Wilhelm Canaris

Laksamana Canaris dipercaya Hitler memegang jabatan strategis sebagai Kepala Intelijen Abwehr. Keturunan Yahudi Yunani inilah yang mengusulkan agar orang-orang Yahudi Jerman diberi identitas bintang david kuning di pakaiannya.


Selain nama-nama di atas, masih banyak elit Nazi yang berdarah Yahudi. Di antaranya adalah: pakar fisika Philip von Lenard, Theodor Lewald (mantan Sekretaris Negara Nazi), Erhard Milch (Direktur Lufthansa dan kepercayaan Hermann Goring), Ernst Heinrich Henkel (pemilik pabrik pesawat terbang Henkel), Eva Braun (isteri Hitler), Heinrich Hoffman (Fotografer pribadi Hitler), Theodor Morrel (dokter pribadi Hitler), dan lain-lain. Ini adalah sebagian kecil dari elit Nazi yang berdarah Yahudi. [rizki]

Sumber:
  1. Konrad Heiden: Adolf Hitler: 1936.
  2. Nikolai Otrovsky: The Temple of the Beast: 2001.
  3. Wili Frischauer: Himmler, Evil Genius of the Third Reich: 1953.
  4. Servando Gonzales:The Swastika and The Nazis: 1997.
  5. Hennecke Kardel: Hitler, Begrunder Israel: 1974.
  6. Charles Wrighton: The Story of Reinhard Heydrich: 1961.
  7. Dietrich Bronder: Bevor Hitler Kam: 1964.
  8. David Korn: Wer ist wer Judentum: 1999.
[1] Gerald Kessler: Die Familiennamen der Juden in Deutschland: Leipzig, 1935.

Senin, 06 Desember 2010

Gelombang Pengungsi Afrika Cemaskan Zionis Israel

Tel Aviv - Hampir tidak pernah diberitakan, namun gelombang pengungsian sejumlah warga dari benua Afrika yang memasuki Israel, membuat pemerintah dan warga Yahudi khawatir.

Ismail Abdul-Rasul dan keluarganya melarikan diri karena gejolak perang di Darfur, merana dalam kondisi menyedihkan selama lima tahun di Mesir dan hampir mati kehausan dalam perjalanan mengerikan di padang gurun Sinai sebelum mereka akhirnya diselundupkan ke Israel.

"Saya menari dengan sukacita ketika sampai," ujar ayah berusia 47 tahun itu, yang mencapai Israel pada bulan Juli 2007. "Itu adalah salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup saya."

Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan ribu warga Afrika seperti Abdul-Rasul telah memasuki Israel, perbatasan padang pasir yang panjang dengan Mesir. Israel, seperti halnya Eropa, menjadi magnet bagi para pencari suaka, terlebih bagi para migran yang putus asa untuk memperoleh pekerjaan di dunia industri.

Namun kedatangan mereka tidak disambut. Publik Israel marah dengan kedatangan mereka, dan pemerintahan Zionis meresponnya dengan membangun pagar perbatasan sepanjang 220 kilometer (130 mil), yang membentang dari Mesir sampai ke pusat penahanan besar-besaran yang dibangun di bagian selatan padang pasir terpencil tersebut.

Israel, bagaimanapun, terbentuk dengan komplikasi khusus: Didirikan enam dekade lalu yang di bangun dari genosida Holocaust Nazi, masyarakatnya terbelah antara rasa kewajiban terhadap pihak yang dianiaya dan ketakutan bahwa masuknya para migran dapat menyebabkan Israel "kurang Yahudi".

Sebelumnya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperingatkan ancaman "banjir" migran ilegal. "Hal ini mengancam pekerjaan orang-orang Israel, dan mengancam Yahudi dan mengancam karakter demokratis negara Israel," katanya.

Pemerintah mengatakan sebagian besar migran pergi ke Israel karena alasan ekonomi, sehingga tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan status pengungsi. Tapi sejumlah kritik menuduh bahwa pemerintah berbohong karena pada faktanya kebanyakan pengungsi melarikan diri dari penganiayaan.

"Negara berbohong, tahu bahwa itu suatu kebohongan dan sengaja menolak untuk memeriksa status para pengungsi karena jika itu dilakukan, akan membuktikan bahwa negara berbohong," kata Sigal Rozen dari Hotline untuk kelompok advokasi Buruh Migran.

Pada awalnya, Israel bukan menjadi tujuan utama bagi para migran Afrika, yang negara-negara di wilayah itu hanya sedikit saja yang memiliki hubungan dengan negara Yahudi. Mesir, yang bertetangga dengan Israel, memiliki populasi besar migran, dan setelah Mesir pada 2005 lalu menolak masuknya sekelompok pengungsi Sudan, mereka mulai mengalir ke Israel utara.

Sejak itu, sekitar 35.000 orang telah memasuki Israel, dengan jumlah yang terus meningkat sekitar 1.500 orang setiap bulannya, menurut catatan pemerintah Israel.

Beberapa kota telah berubah. Sekitar 10 persen dari penduduk kota wisata di Laut Merah, Eilat, adalah migran Afrika, dan seluruh lingkungan di Tel Aviv selatan dikenal sebagai "Little Afrika," di mana toko-toko yang menjual makanan etnik Afrika dan konter-konter penjualan kartu berbaris di sepanjang jalan.

Mayoritas migran berasal dari Eritrea, dimana warganya yang berjenis kelamin laki-laki, dipaksa mengikuti wajib militer namun dengan kondisi seperti perbudakan. Demikian pula dengan Sudan, yang diguncang perang saudara selama 22 tahun, di mana sekitar 300.000 warga Sudan telah tewas dan 2,7 juta lainnya menjadi pengungsi sejak tahun 2003, menurut PBB

Rozen mengatakan, sebanyak 88 persen dari para pencari suaka Eritrea di seluruh dunia diberikan status pengungsi tahun lalu, sementara di Israel tidak seorang pun dari para pengungsi itu diproses.

Awalnya, Israel memberikan bantuan bagi para pengungsi awal, memberikan mereka tempat hunian dan bahkan mengatur pekerjaan di sejumlah hotel dan pertanian kolektif kibbutz. Hampir 3.000 orang mendapatkan izin tinggal sementara atau ijin kerja. Tetapi dengan adanya kebijakan yang menyeluruh, kebanyakan migran saat ini hanya dilepas ke jalan setelah ditahan secara singkat.

Profesor geografi, Arnon Soffer, dari Universitas Haifa memperkirakan bahwa jika laju gelombang pengungsian ini tetap berlangsung, akan ada sekitar 500.000 migran ilegal di Israel dalam waktu 15 tahun. Ia menyebut masuknya para pengungsi tersebut sebagai sebuah "ancaman nyata" bagi sebuah negara yang hanya berpenduduk 7,6 juta jiwa.

Yang pasti, Israel tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini.

Yunani, yang menyumbang 90 persen dari pengungsi ilegal, telah meminta bantuan darurat dari Uni Eropa dalam patroli perbatasan dengan Turki. Italia, dengan garis pantai yang panjang dan penjagaan longgar, telah menjadi tujuan puluhan ribu calon imigran setiap tahunnya, sebagian besar dari Libya.(*/dar)

Sumber : wartanews

Entri Populer

Followers