Tampilkan postingan dengan label Boikot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Boikot. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2011

Yahudi Saja Boikot Produk Zionis, Bagaimana Kita?



(Sahabatalaqsha.com): Sejumlah orang Yahudi penduduk ‘Israel’ ternyata sudah belasan tahun memboikot produk-produk ‘dalam negeri’ mereka sebagai protes atas kekejaman Zionis terhadap bangsa Palestina. Bagaimana kita?

Mya Guarnieri, jurnalis asal Tel Aviv, semula meragukan efektivitas kampanye Boycott Divestment and Sanctions (BDS, boikot, divestasi, dan sanksi demi melawan Zionis secara ekonomi).

Namun, sebagaimana dilaporkan Al-Jazeera, dia memahami tiga prinsip utama gerakan ini: menghormati hak rakyat Palestina untuk kembali ke tanah air mereka –sebagaimana termaktub dalam resolusi PBB 194; mengakhiri penjajahan dan; memberi kesamaan hak bagi rakyat Palestina.

Namun Mya mengira aksi tersebut bukan saja tidak akan menolong, tapi malahan akan membuat Zionis semakin menancapkan taringnya.

Revolusi yang terjadi di Mesir kemudian mengubah pandangan Mya. Ia terkagum-kagum saat sekian banyak rakyat Mesir turun ke jalan demi menuntut perubahan.

Mya sadar bahwa saat ini penduduk ‘Israel’ pun sudah muak dengan pemerintah mereka; termasuk kaum ibu yang tidak rela mengirimkan anak mereka ke pelatihan militer, dan tentara yang tidak lagi mau menjaga tanah jajahan.

Mya tidak sendiri. Kini semakin banyak warga Yahudi ‘Israel’ yang turut memboikot produk asal “negara”-nya.

Menurut Mya, mereka sadar, apa yang terjadi di tanah Palestina bukan hanya soal penjajahan atau pendudukan.

Yang juga tengah terjadi adalah sebuah kerusakan berpikir di kalangan warga ‘Israel’ dan pemerintahan Zionis yang menganggap penjajahan dan kekerasan atas bangsa Palestina ini merupakan suatu kewajaran yang harus dipertahankan.


Persamaan Hak

Seorang Yahudi lain bernama Ronnie Barkan, 34 tahun, menyatakan dia mulai memboikot semua hal yang berbau Zionisme 15 tahun yang lampau, ketika dia menolak menjalankan wajib militer.

“Ada begitu banyak tekanan sosial di ‘Israel.’ Kami dididik agar menjadi tentara sejak taman kanak-kanak. Kepada kami ditanamkan keyakinan: menjadi bagian dari angkatan bersenjata adalah kewajiban kami. Jika tidak mau, maka kami dianggap parasit atau pengkhianat,” Barkan menuturkan isi hatinya.

“Lebih parah lagi,” Barkan menambahkan, “Kami dibesarkan dalam rasisme yang mendalam. Segalanya ditujukan untuk mendukung agar kaum Zionis mendapat hak istimewa di tanah ini. Saya tidak butuh hak istimewa. Saya melepaskan hak istimewa saya dengan mendukung BDS dan menuntut persamaan hak bagi semua.”

Barkan menegaskan, kampanye boikot ini tidak menarget individual, tetapi menyerang kebijakan kriminal pemerintahan dan institusi Zionis.

Bangsa Yahudi dari dalam ‘Israel’ memboikot produk-produk yang mendukung Zionisme. Lalu bagaimana mungkin kita, yang mengaku saudara senasib sepenanggungan dengan warga Palestina, tidak risau saat mengonsumsi produk-produk pendukung Zionisme?



Sudah Saatnya

Maka sudah saatnya dunia bersatu memboikot, menginisiatifkan divestasi, dan memberi sanksi terhadap Zionis. Berpadu sebagai sebuah gerakan global yang dahulu berhasil mengakhiri rezim Apartheid di Afrika Selatan.

Sudah saatnya segenap energi kita kerahkan untuk mengajak keluarga, kerabat, dan sahabat kita untuk tidak lagi menjadi pendukung ekonomi ‘Israel’ dengan mengonsumsi produk-produk Zionis. Cari tahu informasi produk-produk yang harus diboikot, salah satunya dapat dilihat di situs Inminds.

Lalu hindari membeli apa pun dari daftar perusahaan yang turut mendukung Zionisme tersebut.
Jangan sampai peluru-peluru yang digunakan Zionis untuk membantai anak-anak Palestina ternyata dibeli dengan uang belanja kita! (AM/Sahabat Al-Aqsha)

Sumber : Sahabat Al-Aqhsa

Sabtu, 09 Oktober 2010

Karena Berlabel Halal, Sup Campbell Diboikot


Perusahaan Campbell Canada sejak awal tahun kemarin memasarkan sup kemasan kaleng bersertifikasi halal. Namun sebagian masyarakat Kanada mengkampanyekan boikot terhadap produk sup berlabel halal itu.
Ada 15 varian sup dalam kemasan berlabel halal yang dipasarkan Campbell. Bahan-bahan yang terkandung dalam sup tersebut sudah dinyatakan sesuai dengan aturan makanan yang sehat dan halal menurut syariat Islam, termasuk tata cara pemotongan hewan yang dagingnya digunakan dalam sup tersebut.

Sertifikasi halal itu diberikan oleh Islamic Society of North America (ISNA) yang sejak tahun 1988 sudah memberikan pelayanan sertifikasi halal bagi produk makanan. Meski mengandung bahan makanan yang sehat dan halal, tidak semua masyarakat di Kanada menerima kehadiran sup tersebut. Mereka mencurigai, sup berlabel halal itu sebagai indikasi bahwa hukum Islam sudah mulai masuk mengatur kehidupan mereka.

Mereka yang menolak sup berlabel halal itu membuat kampanye "Boikot Sup Campbell" lewat jejaring sosial Facebook yang hingga kini sudah mendapatkan dukungan dari 3.000 orang. Seruan boikot juga dilakukan sejumlah blogger di Kanada lewat tulisan-tulisan di blog mereka.

"Mmm, lezat buat para islamic. Tapi sama sekali tak lezat buat sebagian kita," tulis seorang blogger.

Penulis di situs Jihadwatch.org Robert Spencer dalam tulisannya menyindir, "Jadi, mengapa Sup Campbell tergesa-gesa melakukan penawaran? M-M Persaudaraan Islam yang keren?". Spencer selama ini menuding ISNA memiliki hubungan dengan Hamas dan organisasi Ikhwanul Muslimin yang berbasis di Mesir.

Pamela Geller, penentang Masjid Ground Zero juga ikut menyerukan boikot sup berlabel halal produksi Campbell. Begitu pula organisasi The Tea Party Nation yang di twitternya menulis, "Sekarang Campbell membolehkan orang Islam mengesahkan sup. Mmmmm Mnnnn tidak enak ...saya tidak akan makan sup Campbell lagi." (ln/isc/Tm)

Kamis, 01 Juli 2010

Iran Nyatakan Boikot Terhadap Coca Cola dan Produk-produk Zionis Lainnya

Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad hari Rabu kemarin (30/6) menandatangani amandemen baru untuk hukum di Republik Syi'ah Iran yang melarang penayangan iklan untuk perusahaan-perusahan Zionis."

Blacklist terhadap perusahaan-perusahan yang dilarang itu terutama terdiri dari perusahaan internasional, khususnya Amerika, yang dimiliki oleh orang Yahudi atau yang beroperasi di cabangnya yang ada di Israel .

Di antara perusahan-perusahaan yang masuk dalam daftar di Blacklist tersebut adalah Coca Cola, Nestle, Intel, dan IBM.

Boikot ini berakar pada dukungan hukum Iran terhadap Palestina yang bertindak sebagai respon terhadap pernyataan Israel yang melarang masuknya barang ke Jalur Gaza dalam penyerbuan terhadap armada kebebasan .

Perubahan kebijakan tersebut mewajibkan sejumlah departemen pemerintah untuk membentuk sebuah komite untuk dapat mengidentifikasi dan menemukan produk-produk dari perusahaan-perusahaan Zionis yang dijual di Iran.

Selain itu, komite ini akan mendakwa dengan mencari nama-nama tokoh dalam daftar hitam perusahaan sehingga mereka dapat diboikot juga.

Langkah ini merupakan salah satu mata rantai dari upaya yang dilakukan oleh Iran untuk mengisolasi Israel dari dunia sesuai dengan keputusan parlemen Iran tentang masalah tersebut. Iran juga berencana menelorkan resolusi untuk memboikot Israel di PBB dan forum internasional lainnya, termasuk Organisasi Konferensi Islam dan Liga Arab.

Perubahan tersebut juga mewajibkan kementerian luar negeri Iran untuk menyajikan laporan tahunan tentang kemajuan yang dibuat dalam memboikot produk-produk Israel.

Selain ingin membawa kerugian besar secara ekonomi bagi Israel, amandemen juga mungkin merupakan respon langsung ke babak baru akibat dikenakannya sanksi terhadap Iran oleh Barat mengenai program nuklirnya. Langkah Iran ini dimaksudkan terutama untuk keperluan internal, dalam rangka meningkatkan dukungan sipil terhadap Palestina.(fq/ynet)

sumber : eramuslim

Entri Populer

Followers