Minggu, 10 Oktober 2010

Kedutaan besar Israel untuk Indonesia di Facebook ?



Ya, tentu saja kedutaan ini bersifat "fiktif", karena kita tidak akan menemukan kedutaan besar Israel untuk Indonesia di manapun kecuali sebuah halaman Facebook yang beralamat di www.facebook.com/IsraelinIndonesia. Meski pernah mengetahuinya dari sebuah link yang ditautkan oleh seorang kawan, tapi yang akhirnya membuat saya mau melihat-lihat lagi halaman tadi adalah sebuah page suggestion dari salah seorang kontak di Facebook.

Sebenarnya saya tidak melihat halaman ini sebagai sesuatu yang terlalu serius, tapi memang, yang cukup menarik dari "kedutaan besar Israel
wanna be" ini adalah begitu antusiasnya kalangan Zionis Kristen di negeri ini menyambut kehadiran sebuah kedutaan besar Israel di negeri ini, meski baru bisa mewujudkannya di dunia maya.


Zionis Kristen

Untuk anda yang baru mendengar istilah yang sebenarnya cukup populer ini, Zionis Kristen secara singkat dapat dijelaskan sebagai,
Sebuah kepercayaan di sebagian penganut Kristen bahwa kembalinya Yahudike "Tanah Suci", dan pendirian Negara Israel pada 1948, adalah sesuai dengan ramalan Biblical. Kepercayaan ini bertumpang tindih dengan--tetapi dibedakan dari--gerakan di abad ke-19 bagi Restorasi Yahudi ke "Tanah Suci", yang keduanya memiliki pendukung yang termotivasi baik secara relijius maupun politis. Istilah Zionisme Kristen dipopulerkan di pertengahan abad ke-20. Sebelumnya istilah yang lebih umum adalah Restorationism.

Sebagian kaum
Zionists Kristen percaya bahwa perayaan "perkumpulan" (ingathering) kaum Yahudi di Israel merupakan persyararan bagi Kedatangan Ke-dua Jesus. Kepercayaan ini terutama--meski tidak hanya--berasosiasi dengan faham Dispensasionalisme Kristen. Gagasan bahwa kaum Kristen harus secara aktif mendukung kembalinya Yahudi ke (kawasan yang mereka sebut)"Tanah Israel", bersama dengan gagasan pararel bahwa kaum Yahudi harus didorong untuk menjadi Kristen, sebagai cara untuk memenuhi ramalan Biblikal yang umum pada lingkaran-lingkaran Protestan sejak eraReformasi.[1][2][3].

Banyak Zionis Kristen percaya bahwa bangsa Israel tetap merupakan bagian dari bangsa pilihan Tuhan, lihat juga Dual-covenant theology, bersama dengan kaum Kristen cangkokan (non-Yahudi--ingrafted Gentile Christians[Romans 11:17-24]). Perkembangan ini telah menambahkan pengaruh yang mengubah Zionis Kristen menjadi pendukung Zionisme Yahudi.

(Christian Zionism, Wikipedia)


Tentu saja, paradoks dukungan orang-orang yang menuhankan Yesus (Islam: Isa as.) terhadap kaum yang telah menyalib manusia yang mereka pertuhankan itu bukan tanpa kecaman,
Para pemuka agama Kristen mulai merasa terusik dengan sepak terjang gerakan kelompok Kristen Zionisme yang diam-diam ingin memutarbalikan ajaran Kristen demi kepentingan politik. Para pemuka agama Kristen di Timur Tengah dan di Al-Quds (Yerusalem Timur) berusaha membongkar aktivitas kelompok itu dengan membentuk sebuah misi khusus.

Uskup dari Gereja Evangelis Lutheran di Yordania dan Tanah Suci, Munib Younan mengatakan, kelompok Kristen Zionis bukan kelompok atau sekte yang diakui dalam agama Kristen. Munib bersama dengan tujuh tokoh agama Kristen dari Timur Tengah lainnya telah menandatangani Deklarasi Yerusalem untuk melawan gerakan kelompok Kristen Zionisme. Tokoh agama Kristen yang ikut menandatangani deklarasi itu antara lain kepala patriarki Michel Sabbah dari Jerusalem, Uskup Swerios Malki Mourad dari Patriarki Ortodoks Suriah dan Uskup Riah Abu Al-Assal dari Gereja Episkopal wilayah Yerusalem dan Timur Tengah.

Dalam deklarasi itu mereka menyebut gerakan Kristen Zionisme sebagai gerakan murtad. Ide-ide dan ajaran gerakan itu, kata Munib tidak sejalan dengan ajaran Kristen yang asli. "Kristen Zionisme adalah ajaran yang melenceng dari ajaran alkitab yang mengajarkan cinta, keadilan dan rekonsiliasi," kata Munib.

Menurut Uskup Younan, Deklarasi Yerusalem bertujuan untuk memberikan penjelasan pada siapa saja yang peduli dengan apa sebenarnya yang terjadi di tanah-tanah pendudukan Israel di Palestina, termasuk pada kelompok Kristen Zionis sendiri. Deklarasi itu bukan hanya menentang keberadaan kelompok Kristen Zionis tapi juga kelompok-kelompok kiri di Israel. Persekutuan kedua kelompok itu, menyebabkan munculnya aksi-aksi kekerasan tak berkesudahan di seluruh Timur Tengah.

"Kami menegaskan pada Amerika dan dunia bahwa kami, umat Kristiani di Palestina berkomitmen kuat pada kebebasan dan keadilan untuk rakyat Palestina serta untuk membebaskan mereka dari penjajahan Israel," tukas Younan.

(Deklarasi Yerusalem untuk Melawan Gerakan Kristen Zionis,Hidayatullah.com)

Namun terlepas dari berbagai kecaman yang muncul dari kalangan Kristen sendiri, gerakan yang muncul pada era tahun 1900-an dan dipopulerkan oleh orang Amerika Cyrus Scofield ini tetap merambah tidak hanya di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, tetapi juga bahkan sampai juga ke Indonesia.

Negeri berpenduduk mayoritas muslim ini memang menjadi salah satu target berbagai konspirasi dan misi mereka. Tragedi Ambon berdarah yang memakan ribuan korban jiwa kaum muslim termasuk bagian dari rekayasa mereka (Damai Sekarang atau Perang Berlanjut,
Rustam Kastor). Tidak berhenti di situ, kaum Zionis Kristen ini juga terus menyiapkan laskar-laskar untuk menyukseskan misi mereka di negeri ini.


Zionis di sekitar kita

Dengan memperhatikan sepintas saja perkembangan Kristen Zionis di atas, fenomena Kedutaan besar Israel di dunia maya yang secara sepintas tampak tidak serius ini sebaiknya tidak luput begitu saja dari perhatian kita. Sebagai media propaganda, halaman tersebut tampaknya telah menjadi "surga" bagi kaum Kristen untuk melancarkan agenda-agenda Zionisme di negeri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

Followers